Persiapan Pribadi Atlit Pencak Silat Dalam Bertanding*)

Standar

Sangat penting bagi seorang atlit pencak silat untuk mempersiapkan diri dalam pertandingan. Pertandingan pencak silat memberlakukan sistem gugur yang sangat kompetitif yang artinya sekali seorang pesilat kalah ia kehilangan kesempatan untuk maju ke babak selanjutnya. Artinya, seorang juara pencak silat adalah ia yang tidak pernah kalah, selalu menang dari awal hingga akhir pertandingan. Untuk mencapai prestasi ini, dibutuhkan persiapan yang matang. Latihan fisik dan teknik secara rutin dan terprogram harus dilakukan. Namun menjelang berangkat pertandingan, juga ada hal-hal khusus yang harus dipersiapkan maisng-masing atlit untuk menunjang keberhasilan dalam pertandingan.

Karena pencak silat sebagian besar adalah olahraga individu  (kecuali kategori ganda dan regu), maka persiapan sebaiknya dimulai dari level yang paling dasar yakni dari diri atlit sendiri, yang akan kita sebut “persiapan pribadi”.

Persiapan pribadi adalah semua hal yang harus dipersiapkan oleh masing-masing atlit sendiri. Mengapa persiapan pribadi sangat penting? Karena apabila seorang atlit telah memiliki kesiapan, ia dapat lebih terfokus pada pertandingan, bukan kepada hal-hal lain selain pertandingan. Dan fokus atau konsentrasi turut memperbesar peluang meraih juara.

Kemudian bagaimanakan “persiapan pribadi” yang wajib dilakukan atlit pencak silat itu? Inilah urut-urutan dan uraiannya, mulai dari: (1) sebelum berangkat; (2) saat tiba di tempat pertandingan; (3) saat bermain;  dan (4) selesai bertanding.

  1. Sebelum Berangkat Bertanding

Kata kuncinya adalah: Bereskan hal-hal yang bisa mengganjal. Artinya, sebelum bertanding seorang atlit pencak silat harus membereskan hal-hal lain yang sekiranya akan menggangu konsentrasinya selama bertanding. Apa saja yang harus dibereskan?

  1. Permasalahan pribadi

Penting untuk membereskan urusan-urusan pribadi sebelum berangkat. Terutama bila atlit memiliki masalah pribadi dengan orang lain. Permasalahan pribadi biasanya berkaitan dengan faktor perasaan/afeksi atau emosi. Permasalahan pribadi akan memicu emosi yang berlebihan, dan dalam kondisi tersebut atlit akan sulit fokus. Cara paling aman adalah jangan membuat masalah pribadi apapun menjelang berangkat bertanding; atau apabila memiliki masalah pribadi, bereskan hingga tuntas sebelum berangkat.

  1. Masalah ijin atau dispensasi

Ini berkaitan dengan ijin atau dispensasi sekolah, tugas-tugas yang harus dilakukan atau dikumpulkan ketika kita bertanding. Pastikan semua surat dispensasi telah diterima para dosen atau sekolah, sehingga di kemudian hari tidak ada permasalahan berkaitan dengan hal itu. Apabila waktu pertandingan bertepatan dengan pengumpulan tugas atau ujian, mintalah ijin secara langsung pada dosen bersangkutan, mintalah jadwal di waktu lain, ujian bersama kelas lain, atau kumpulkan tugas lebih awal.

Sesungguhnya dengan mengurus ijin/dispensasi merupakan suatu bukti untuk menegaskan identitas anda sebagai seorang atlit pencak silat yang bertanggung jawab, dan membuktikan anda tidak bersikap egois dan tetap respek pada bidang kehidupan anda yang lain.

 

  1. Perlengkapan pribadi

Kemasi perlengkapan pribadi anda sendiri jauh-jauh hari sebelum bertanding. Terutama perlengkapan bertanding seperti seragam, decker, handuk, tempat minum, sabuk, dll. Untuk ketegori ganda dan regu, persiapkan secara detil peralatan seperti golok, toyak, seragam, aksesoris, sabuk, peniti dll. Bawalah juga peralatan pribadi lainnya yang sekiranya akan dibutuhkan misalnya P3K pribadi, pemanas air, MP3, bantal kecil, selimut, dll. Penting untuk diperhatikan: bawalah perlengkapan pribadimu selengkap mungkin, jangan meminjam milik orang lain.

  1. Berpamitan

Agar merasa nyaman secara emosional, pamitlah kepada orang-orang dekat, terutama orang tua dan pelatih (apabila ia tidak ikut berangkat). Seorang atlit yang berangkat bertanding ibarat tentara yang berangkat berperang. Karena tu sebelum berjuang, beritahukan kepada orang-orang penting agar mereka memberikan doa restunya. Perlu diketahui bahwa untuk berpamitan tidak harus secara langsung, melalui telepon atau SMS sudah cukup, yang penting ini harus dilaksanakan.

 

  1. Tiba di Tempat Pertandingan

Kata kuncinya adalah: Mandiri. Atlit yang mandiri adalah atlit yang tahu kapan harus berlatih, kapan harus makan, tidur, istirahat, mempersiapkan diri dll tanpa harus disuruh. Meskipun seorang atlit berangkat bersama tim, dan ada pelatih dan manajer yang bisa mengingatkan dan mempersiapkan segalanya, bersikap mandiri tetap harus dilaksanakan. Pelatih dan manajer akan sangat terbantu bila atlitnya bisa sadar akan tugasnya tanpa harus disuruh-suruh. Pencak silat adalah olahraga individu maka setiap orang harus berkonsentrasi dengan tugasnya masing-masing. Atlit tugasnya adalah bermain, memenangkan pertandingan sebanyak mungkin, maka fokuslah dengan tugas itu. Jangan berusaha berperan lebih dari itu, kecuali bila jam terbang anda sudah mumpuni untuk itu.

Secara teknis, inilah yang harus dilakukan saat bertanding:

  1. Mempersiapkan perlengkapan bertanding

Persiapkan perlengkapan bertandingmu sendiri secara mandiri. Seragam, decker, pelindung kemaluan, tempat minum, handuk, baju ganti, dll. Jangan meminjam milik orang lain, atau mengandalkan perlengkapan tim yang disediakan manajer. Karena barang pinjaman atau barang tim itu belum tentu nyaman untuk anda. Kenyamanan anda dalam bermain ikut menentukan kepercayaan diri anda. Dan bila anda merasa lebih percaya diri menggunakan peralatan tertentu, misalnya seragam, decker, aksesoris tertentu (untuk TGR), maka persiapkan baik-baik peralatan itu. Dan bawalah sendiri, jangan pernah menitipkannya pada orang lain. Karena bisa saja barang dipakai orang lain tanpa ijin, hilang, atau ketika dibutuhkan yang membawa sedang pergi. Sebaiknya atlit memiliki sebuah tas yang khusus dibawa ke gelanggang yang isinya perlengkapan bertanding masing-masing. Bila perlu, bawalah peralatan cadangan. Ini untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu. Misalnya membawa seragam cadangan di tas, kalau-kalau saat bertanding sobek.

Khususnya bagi kategori TGR, penting untuk mempersiapkan peralatan bertanding secara detil. Karena bagi TGR penampilan termasuk salah satu faktor yang mendongkrak penilaian juri. Karena itu tampillah sebaik mungkin; pakailah seragam, sabuk, aksesoris yang terbaik, jangan yang sembarangan. Lipat rapi seragam, sabuk, aksesoris di dalam plastik atau tempat khusus agar tidak kotor dan kusut. Bersihkan golok sampai mengkilap minimal semalam sebelum bermain; amplaslah toyak bila perlu. Bawalah semua peralatan tersebut secara hati-hati dalam tas. Dan bawalah semuanya sendiri, untuk menjaganya agar tidak kotor/kusut, dipakai main-main, atau berjaga-jaga terhadap lawan yang memiliki niat tidak baik.

  1. Membuat diri sendiri senyaman mungkin

Buatlah diri sendiri senyaman mungkin selama bertanding. Perlu diketahui bahwa suasana di gelanggang bisa saja sangat ramai, menegangkan atau penuh tekanan. Seorang atlit tetap harus bisa rileks dalam kondisi apapun. Untuk rileks, cara masing-masing atlit berbeda-beda. Ada yang mendengarkan musik menggunakan MP3/HP, membawa bantal kecil untuk tidur di gelanggang, membaca buku, komik lucu, menyepi di musholla, atau melakukan relaksasi. Yang penting buatlah dirimu senyaman mungkin dengan caramu sendiri, tanpa merepotkan orang lain.

  1. Mengatur perilaku sesuai etika

Pada dasarnya adalah mengatur perilaku diri sendiri agar sesuai dengan etika sopan santun. Etika ini ada dua macam: etika terhadap orang lain dan etika terhadap diri sendiri. Etika terhadap orang lain yaitu: berperilakulah sopan santun pada sesama pesilat, pelatih, wasit juri dan orang-orang di sekitar gelanggang. Ini berlaku saat bermain maupun tidak. Bila dipikirkan secara mendalam, pencak silat adalah olahraga bela diri yang santun, ini terlihat dari pertaurannya. Hormat sebelum masuk gelanggang, tidak boleh menghina lawan, tidak boleh menyerang muka, dilarang mencederai dengan sengaja, tidak menyerang ketika posisi lawan di bawah dll, semua itu sesuai dengan adat kesopanan dan sifat ksatria. Karena itu bawalah kebiasaan ini di luar gelanggang. Bukan perilaku yang menjilat, tetapi sopan santun sewajarnya yang tenang, elegan dan tidak berlebihan. Anda akan lebih dihormati orang lain bila berperilaku demikian, termasuk dihormati teman, lawan, wasit dan juri.

Sedangkan Etika terhadap diri sendiri yaitu: berpikir positif, tidak menjelek-jelekkan diri sendiri, bersih dari pikiran atau niatan negatif. Ini termasuk mengendalikan pikiran dan emosi dari segala sesuatu yang negatif seperti: godaan untuk sombong, ambisius, menyakiti lawan, atau pikiran rendah diri/minder, takut dan putus asa. Kemampuan mengendalikan pikiran ini tergantung dari kedewasaan seorang atlit. Untuk dapat mengenalikan pikiran banyak metode untuk melatihnya, a.l: memiliki catatan harian, afirmasi, relaksasi, meditasi dll. Namun solusi paling mudah untuk mengendalikan diri adalah berdoa sesuai keyakinan masing-masing, yang akan dibahas secara tersendiri.

  1. Berdoa

Berdoa adalah solusi terbaik melepaskan diri dari pikiran negatif. Jujurlah kepada Tuhan dengan apa yang anda rasakan saat ini. Bila anda merasa takut, akuilah, dan mintalah kepada Tuhan keberanian. Bila merasa lemah, akuilah, mintalah kepada Tuhan diberi kekuatan. Atau berdoalah secara netral minta diberi kekuatan untuk bermain sebaik mungkin. Atau cukup bersyukur, berpasrah akan menang-kalah kepada Tuhan. Berdoa ini wajib dilakukan, tetapi jangan memaksakan diri berdoa dalam cara yang anda tidak nyaman atau tidak biasa melakukannya. Intinya, berdoalah dalam cara yang membuatmu nyaman. Dalam buku Quantum Ikhlas disebutkan bahwa “Tuhan akan mengabulkan doa yang diucapkan di hati, bukan di mulut”.

  1. Ketika Bermain

Tiba saat bermain. Inilah persiapan yang sangat penting. Buat pikiran tetap rileks namun terfokus. Jangan terlalu rileks, tetapi juga jangan terlalu tegang. Teralu rileks akan membuat anda lengah dan meremehkan lawan, sementara terlalu tegang akan menurunkan kemampuan anda. Kata kuncinya adalah: Nikmati sebaik-baiknya.

  1. Estimasi waktu

Partai keberapa saya bertanding? Sudut merah atau biru? Urutan keberapa saya tampil? Pool a atau b? Di gelanggang yang mana? Perkiraan jam berapa saya main? Ketahui secara pasti kapan, dimana, partai/urutan keberapa anda bermain, lalu koordinasikan dengan pelatih/ofisial. Sehingga anda bisa menentukan kapan mulai bersiap-siap pemanasan. Untuk kategori TGR, estimasi waktu harus diperhitungkan baik-baik, karena selain pemanasan, TGR harus bersiap-siap mengenakan seragam, aksesoris, riasan wajah dan juga pemeriksaan senjata. Jangan sampai tergesa-gesa karena akan mengurangi konsentrasi.

  1. Fokus

Fokus pada permainanmu sendiri. Jangan memikirkan apapun, jangan memikirkan lawan, wasit, juri, nomor urut atau yang lain. Fokuslah pada dirimu sendiri. Jangan membebani pikiranmu dengan hasil pertandingan (menang atau kalah). Bagi kategori tanding, yang penting cetak poin sebanyak mungkin tanpa kehilangan. Bagi kategori TGR, yang penting bermain sebaik mungkin dengan mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada.

Perlu diketahui oleh atlit yaitu ketika ia berlatih, atlit harus memiliki keteguhan mental “berlatih untuk menang”. Tetapi ketika akan bertanding, lupakan menang kalah, pikirkan bagaimana “bermain semaksimal mungkin”. Cetak poin setiap ada kesempatan, keluarkan power maksimal hingga 3 menit. Toh apabila atlit telah berlatih secara sungguh-sungguh sebelumnya, mencetak poin, bermain total, semuanya akan menjadi naluriah/otomatis.

Terkadang kita merasa kesulitan untuk merasakan apakah pikiran kita terfokus atau tidak. Inilah satu kata kunci untuk fokus: nikmatilah masa sekarang. Jangan memikirkan masa lalu, jangan memikirkan masa depan. Jangan memikirkan yang sudah terjadi, atau yang anda takutkan/perkirakan akan terjadi. Memikirkan masa lalu atau masa depan akan membuat anda cemas dan mengurangi konsentrasi.

Pikiran masa lalu contohnya: memikirkan lawan anda adalah seorang juara nasional, bukankah itu hal yang sudah lalu? Atau terlalu memikirkan strategi bermain yang diinstruksikan pelatih. Permainan dapat berlangsung diluar dugaan, jadi siap saja dengan apapun yang terjadi. Sedangkan pikiran masa depan contohnya: merasa takut akan terbanting, akan kalah, atau akan dihajar oleh lawan. Itu adalah masa depan yang belum terjadi, jadi mengapa dipikirkan? Atau terlalu ambisius memikirkan kemenangan. Atau memperediksi diri sendiri akan kalah. Apa yang terjadi di masa depan bukanlah urusan anda, jadi nikmati saja permainan (saat sekarang) sebaik-baiknya. Sadari benar-benar berada di mana anda saat ini, apa yang sedang anda lakukan, kemudian nikmatilah. Bila anda memang telah berlatih dengan serius, semuanya akan berjalan secara naluriah dan otomatis. 

  1. Selesai Bertanding

Apapun hasilnya, menang atau kalah, itu bukanlah suatu alasan untuk kehilangan etika terhadap orang lain atau diri sendiri. Seorang atlit sejati harus tetap bersikap dewasa bagaimanapun hasil pertandingannya. Menang atau kalah, ia tetap harus menjunjung etika baik pada orang lain atau pada dirinya sendiri. Kata kuncinya adalah: Bersikap dewasa.

Kekecewaan karena kalah, atau euforia karena menang seringkali membuat seoarng atlit kehilangan kendali dan bersikap kekanak-kanakan. Boleh saja menikmati kemenangan atau meratapi kekalahan tetapi itu baru boleh dilakukan setelah pulang bertanding. Ketika pertandingan belum selesai, ketika masih ada rekan anda satu tim yang masih bermain, anda harus mengendalikan diri.

  1. Istirahat

Pertama-tama yang harus anda lakukan setelah bermain adalah pendinginan (cooling down) dan kemudian beristirahat. Terutama bila setelah itu anda harus bermain lagi. Ganti kaos yang basah karena keringat dengan kaos kering (inilah pentingnya mempersiapkan perlengkapan pribadi), gantung baju seragam (yang mungkin akan dipakai lagi), bereskan kembali peralatan seperti decker, kap protektor dll agar jangan tercecer, karena anda akan membutuhkannya lagi.

Kemudian setelah itu rilekskan pikiran dan tubuh, istirahatlah untuk memulihkan kebugaran. Sama seperti sebelumnya, buat diri anda senyaman mungkin. Kemudian dalam istirahat pun anda butuh fokus. Jangan memikirkan kesalahan atau kelalaian yang baru saja diperbuat dalam bertanding tadi. Terutama bila anda menang dan maju ke babak berikutnya, jangan merasa senang dahulu karena anda masih harus berjuang hingga final. Fokus pada apa yang anda lakukan sekarang: istirahat untuk memulihkan tubuh dan pikiran.

Ini juga berlaku bila ternyata anda kalah atau gagal maju ke babak selanjutnya. Pendinginan tetap harus dilakukan, lalu istirahatlah untuk menjernihkan pikiran. Biasanya memang ada luapan emosi yang berlebihan (sedih atau marah), tetapi pada saat itu istirahatlah sejenak agar otak dapat berpikir rasional, sehingga anda bisa bersikap dewasa dalam menghadapi kekalahan.

  1. Etika menang-kalah dalam tim

Entah anda menang atau kalah, anda tetap harus mendukung tim. Bila anda menang, Dukunglah teman anda yang masih bermain, jangan mentang-mentang sudah menang lalu anda berlaku seenaknya, apalagi bila anda bertingkah laku sombong, maka bukan simpati atau penghormatan yang anda dapatkan tapi rasa dengki dan muak.

Sesungguhnya keberhasilan seseorang dalam tim akan mendongkrak rasa optimisme tim secara keseluruhan. Bagi teman anda, disuporteri oleh teman yang menang akan menambah spirit dan kepercayaan diri. Tetaplah berlatih bersama di pagi hari bersama tim, meskipun sebenarnya anda sudah bebas tugas. Lalu tetaplah berada di tempat pertandingan, jangan lantas keluyuran kemana-mana karena akan membuat iri teman yang belum bermain. Jangan mengemasi barang-barang lebih dulu, toleransilah pada yang belum bermain. Tetap kenakan celana silat setiap ke gelanggang, tetap bawalah seragam kalau-kalau pelatih meminta bantuan anda menjadi ofisial. Bantulah atlit, manajer atau pelatih, misalnya membantu mereka pemanasan, memegang jadwal, membeli sesuatu atau apapun, mereka akan sangat berterimakasih.

Contoh-contoh diatas juga berlaku apabila anda kalah. Jangan karena kalah lalu anda bertindak seenaknya. Jangan terhanyut dalam kesedihan atau kekecewaan, karena tim masih membutuhkan anda meskipun anda kalah. Kuasai diri anda, karena emosi negatif yang berlebihan akan membuat atmosfer tim menjadi negatif. Jangan membahas kekalahan dengan teman-teman yang masih bermain, karena hal itu bisa menurunkan semangat. Tetaplah mendukung tim sebaik mungkin hingga pertandingan selesai.

  1. Evaluasi

Entah menang atau kalah, evaluasi wajib dilakukan, namun sebaiknya kita bersikap fleksibel mengenai waktu dan caranya. Terkadang memang pelatih mengadakan forum khusus untuk mengevaluasi atlit, atau pelatih menyampaikan evaluasi permainan dalam pembicaraan empat mata yang sifatnya pribadi, atau ada yang sama sekali tidak memberikan evaluasi (biasanya karena pelatih menganggap atlit sudah bisa mengevaluasi permainannya sendiri). Entah pelatih memberikan atau tidak, sebagai atlit anda harus melakukan evaluasi. Evaluasi bisa dilakukan secara mandiri atau oleh pelatih/ofisial.

Evaluasi secara mandiri adalah dengan melakukan monolog dengan diri sendiri. Berbicaralah dengan diri sendiri, bagaimana permainan anda tadi. Berdiskusilah dengan diri sendiri dalam hati sejujur mungkin. Atau anda bisa melakukannya dengan menuliskannya (seperti membuat catatan harian). Intinya, anda melakukan flashback, memutar kembali apa yang telah terjadi. Sebaiknya lakukan evaluasi mandiri dulu kemudian ceklah dengan berdiskusi bersama pelatih atau ofisial anda. Cara yang umum dipakai adalah menanyakan kepada mereka pertanyaan terbuka ”Bagaimana menurut mas/mbak permainan saya tadi?”. Pertanyaan itu akan membuat pembicaraan berlanjut menjadi diskusi. Pembicaraan ini dapat berlangsung pribadi atau dengan kehadiran orang lain (teman setim, manajer atau ofisial lainnya), yang penting lakukanlah dalam suasana yang santai. Bila anda dalam suasana rileks, anda akan lebih mudah menerima masukan.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan melakukan evaluasi ketika anda masih merasakan emosi, karena evaluasi itu tidak akan berguna. Ketika masih emosi, anda cenderung tidak objektif menilai diri sendiri. Rasa marah, sesal, kecewa, sedih, dll karena karena kekalahan bisa membuat anda menghakimi diri sendiri sebagai atlit yang payah, kalahan, dan sederet julukan negatif lainnya. Bukan hanya itu, ketika masih merasakan emosi, anda akan menjadi sangat sensitif terhadap kritik. Kritik, saran, bahkan guyonan kecil saja bisa membuat anda semakin minder/rendah diri, atau lebih parah lagi anda anggap sebagai penghinaan.  Ini juga berlaku bila anda menang atau meraih juara. Euforia kemenangan akan membuat anda tidak mampu melihat kesalahan atau kekurangan diri sendiri. Dalam situasi ini, sebagai orang yang berada di puncak pun anda tidak akan bisa menerima kritik saran dari orang lain karena toh anda sudah berhasil. Disini kita akan mudah terlena.

Oleh karena itu istirahatkan pikiran dan tubuh anda dulu hingga anda bisa secara objektif melakukan evaluasi. Tubuh mungkin akan pulih kembali dalam hitungan jam, namun psikis berbeda-beda setiap orang. Ada yang bisa langsung pulih secara psikis dalam beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan beberapa minggu baru bisa berpikir jernih dan rasional. Biasanya ini tergantung kedewasaan dan karakter masing-masing atlit. Jadi tidak masalah bila evaluasi baru dilakukan beberapa hari sepulang dari pertandingan, yang penting tunggulah hingga pikiran anda objektif, tetapi semakin cepat semakin baik. Biasanya pelatih yang baik akan memberikan evaluasi di hari pertama latihan setelah atlit pulang dari pertandingan.

Persiapan diatas adalah persiapan yang harus dilaksanakan secara berurutan. Contohnya, seorang atlit haruslah membawa perlengkapan pribadinya secara lengkap agar ia bisa merasa nyaman dalam pertandingan. Ia bisa focus dalam bermain bila tidak memiliki permasalahan pribadi yang tertinggal di rempat asalnya. Ia bisa berpasrah lebih khusyuk bila memiliki kepastian bahwa orang-orang dekatnya merestuinya bertanding.

Persiapan diatas sebenarnya sangat sederhana dan remeh, namun seringkali dilewatkan oleh para atlit. Persiapan diatas ditulis berdasarkan observasi-observasi terhadap atlit-atlit pencak silat mulai dari tingkat daerah hingga internasional,  juga dialog-dialog dengan pelatih, manajer dan ofisial pencak silat. Apa yang ditulis diatas merupakan kesimpulan secara garis besar.

Semoga bermanfaat, SELAMAT BERTANDING !!

 

KUR SINGAPORE

*) Telah dipublikasikan sebagai hand-out materi psikologi olahraga dalam TOT Pelatih pencak Silat Kategori Tanding PSHT wilayah Jawa Timur, di GOR UNAIR kampus C, Maret 2010.

Pencak Silat Decorates the Raid

Video

Saat saya menulis tulisan ini, film The Raid, dibintangi Iko Uwais sudah lama beredar. Saya sendiri menontonnya bersama teman-teman pelatihan DIKTI di bioskop 21 BIP Bandung. Motivasi menonton karena penasaran, tapi bukan penasaran temntang actionnya, cuma penasaran mendengar status teman-teman di FB yang mengatakan kalau film ini sarat dengan kekerasan, makian, kesadisan dari awal hingga akhir. Masa sih ? Masa pencak silat bisa disandingkan dengan kekerasan seperti itu ? nah, makanya aku nonton,…
Menit-menit pertama aku menontonnya, betul ini film benar-benar sadis dan kasar. Tapi yang sedikit mengecewakan adalah gambaran tim polisi yang menyerbu gedung itu, kesannya nggak kompak  banget gitu lho, di awal-awal Godfred dengan Rama (Iko) sudah  betengkar perkara orang sipil yang mau masuk gedung nganterin obat. Halah,… mana boleh tim polisi nggak kompak kayak gitu. Tapi,  dengan sabar aku mengikuti jalan ceritanya.

Rasanya empatpuluh hingga satu jam berikutnya isinya adalah aksi terus. Tembakan, cipratan darah, aksi kekerasan dan ledakan, serta visualisasi bacokan dan tembahan yang vulgar terus menerus ditayangkan silih berganti, seolah-olah memang menunjukkan secara jelas posisi film ini; ini adalah film action murni, silahkan lihat atau balik kanan; saya kira, tiga orang yang nggak boleh nonton film ini adalah; penakut, anak-anak dibawah umur dan yang punya jantung lemah.

The Raid bukan film yang menjual cerita, pencak silat atau sekedar nama Iko Uwais; The Raid adalah film yang menyuguhkan action murni. Very pure action, dengan pencak silat sebagai dekorasinya. Yes, bagiku, pencak silat disini adalah dekorasi yang membuat film ini distinctive (berbeda). Teknik bertarung Iko Uwais, tidak seperti dalam Merantau, tidak menunjukkan style aliran tertentu, tetapi murni beladiri pencak silat yang diaplikasikan dalam kondisi emergency polisi. Para pengamat film action akan berdecak kagum melihat teknik-teknik bertarung yang belum pernah ada di film action lain, guntingan kaki di udara, permainan serangan tangan dalam jarak pendek, bantingan  yang memotong kepala, dan sebagainya,…. tetapi maaf, aku benar-benar melihat kalau teknik-teknik itu sering digunakan dalam pertandingan pencak silat kaegori Ganda. Bahkan , ada beberapa gerakan yang mencontoh teknik Ganda Putri dari suatu daerah…. (maaf saya membocorkan rahasia, tapi sesama atlit pencak silat pasti berpikiran sama dengan saya) Apakah teknik itu berbahaya? Yes absolutely,   tetapi itulah memang pencak silat. Indah sekaligus berbahaya. Dan, saya lihat dalam The Raid, itulah dekorasi yang menjadi kekuatan film ini. Mengapa saya sebut dekorasi ? tentu saja karena nilai pencak silat yang sesungguhnya menjunjung tinggu etika dan keluhuran budi tidak dicantumkan dalam film ini (para tetua dan senior pencak silat bisa kecewa kalau menonton film ini). Tapi, ya iyalah,….. lha wong ini film pure action, punya genre tersendiri.

Kekuatan lain yang saya lihat dalam film ini adalah penggarapan grafisnya yang sangat detil. Saya merasa dipaparkan sebuah dunia (mungkin Jakarta atau anywhere) yang sangat riil, gelap, basah dan kotor. Seolah-olah saya yakin bahwa dinding kayu tempat Rama dan Jaka bersembunyi benar-benar terbuat dari kayu tua. Seolah-olah kamar-kamar kotor dalam apartemen tersebut benar-benar dunia suram para kriminal dan pecandu narkoba. Perabot murah berkarat, darah lengket, tembok yang kotor berlumut, saya merasa harus mengacungi jempol pada Gareth Evans untuk yang ini. Jujur saja, film yang settingnya riil seperti ini yang saya sukai.

Overall, sekali lagi saya menyimpulkan bahwa ini adalah film pure action at its peak, jadi siap-siap saja tahan napas dari awal hingga akhir. Jeda mengambil nafas buat anda mungkin cuma beberapa scene yang kemudian akan disususl adegan menagangkan berikutnya. Kalau dari pandangan saya sebagai sport psychologist, bagia anda atlit beladiri yang punya masalah “kurang agresif”, slahkan nonton film ini. Saya sendiri merasakan insing agresifitas saya sedikit bangkit setelah menonton film ini, malah salah satu teman FB yang atlit pencak silat mengaku jujur setelah nonton fulm itu bawaannya mau tawur aja. Jadi sebagai treatment, film ini juga cocok untuk ditonton, sekaligus buat latiha ketahanan psikis. Sekedar tambahan, saat menjadi atlit dulu saya dinilai kurang agresif dan kurang penghayatan (kata pelatih, saya nggak punya ekpresi wajah kejam), lalu pelatih menyodorkan film-film actionyang harus saya tonton. Saya ingat beberapa judulnya antara lain Platoon, Enemy at the Gates, Black Hawk Down, sampai suspense perang Courage under Fire… dan saya berlanjiut menjadi penggemar film action dan beladiri.

Last for the least, kalau anda nggak percaya teknik the Raid itu banyak digunakan di Kategori Ganda pencak silat, bisa lihat tautan di Youtube tentang cuplikan Pertandingan Pencak Silat di PON XVII di bawah.