Menumbuhkan Motivasi Berprestasi Olahraga Ditinjau dari Paradigma Sosial-Kognitif

Standar

MOTIVASI SEBAGAI SEBUAH PROSES DINAMIS: MENUMBUHKAN MOTIVASI BERPRESTASI OLAHRAGA DITINJAU DARI PARADIGMA SOSIAL-KOGNITIF

Kurniati Rahayuni

RaraWarih Gayatri

Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang

Abstract: Many coaches know about motivation and its importance on achievements, but rare of them know how to develop and maintain it on their athletes. Mostly, people see motivation as static, concrete things that must exist as the important elements of achievements, rather than  a dynamic process that can be conditioned, developed and  maintained  throughout athlete’s life. This paper explores motivation as a dynamic process from social-cognitive paradigm. Before develop athlete’s motivation, a coach must ensure that the goals achievement has personal and social value for their athletes. Then after ensuring its values, coach must check whether the three constructs exist in athlete’s behavior, which are 1) personal goals; 2) regulation behaviour toward achievements, and 3) self-efficacy or confidence. These steps, researches and theories how to develop each construct were explained.

 key words: motivation, social-cognitive

Studi tentang motivasi adalah salah satu tema paling diminati dalam ilmu psikologi. Motif adalah salah satu faktor yang membuat seseorang berperilaku tertentu, yang mendorong seseorang dalam melakukan sesuatu.

Setidaknya terdapat 32 definisi berbeda tentang motivasi dalam ilmu psikologi, dimana masing-masing pencetus teori merumuskan teori motivasinya sendiri-sendiri (Ford, 1992; Pinder, 1984 dalam Roberts, 2001). Apabila dikelompokkan, teori-teori tersebut membahas tentang motivasi sebagai: 1) Sebagai bagian dari operasi sistem biologis individual untuk mencapai homeostatis atau keseimbangan; disini motif yang mendorong perilaku adalah adanya suatu deprivasi dan perilaku tersebut ditujukan untuk kembali ke kondisi seimbang (homeostatis); 2) Sebuah  sebuah  sistem tertentu yang beroperasi dalam kognitif  seseorang (self-system); 3) Suatu proses yang memebuat seseorang  mengelola perilakunya dalam meraih suatu tujuan’ dan 4) sebuah proses afektif yang bersifat emosional yang mendorong perilaku seseorang.

Khususnya dalam dunia olahraga, kurang lebih duapuluhlima persen dari studi psikologi olahraga adalah tentang motivasi; dan juga merupakan salah satu tema penelitian yang sering dilakukan dalam area psikologi olahraga (Alderman, 1975; Roberts,1992; Roberts, 2001). Alasan mengapa studi motivasi dalam berolahraga sangat diminati karena dapat mengekplorasi bagaimana proses seseorang berolahraga.

Topik motivasi bahkan menjadi sangat menarik dalam wilayah olahraga prestasi. Dalam dunia olahraga prestasi yang kompetitif, seorang atlit harus bersedia untuk menjalani rutinitas latihan yang berat untuk meraih prestasi. Konsekuensi tersebut juga mempengaruhi kehidupannya sehari-hari. Atlit harus memiliki jadwal latihan yang ketat, pengauran gizi dan menu makanan yang ketat, mengalami resiko terpapar cedera, dan juga mengorbankan kesempatan untuk menjalani pendidikan seperti layaknya individu normal. Penelitian motivasi dalam olahraga menjadi menarik karena kengintahuan peneliti terhadap hal-hal apa yang membuat seorang individu  bersedia untuk menjalani latihan, menjalani rutinitas yang tidak menyenangkan, menempuh resiko-resiko dalam bertanding dan secara sadar mengelola diri sendiri untuk meraih prestasi. Faktor-faktor individual yang berada di balik perilaku tersebut itulah yang disebut motivasi.

MOTIVASI SEBAGAI SEBUAH FENOMENA PSIKOSOSIAL YANG DINAMIS

Selama ini, teori motivasi yang populer dan paling mudah dipahami adalah teori Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik dari Deci (1971). Motivasi Intrinsik adalah dimana perilaku muncul dari dalam diri sendiri, antara lain untuk memeperoleh kesenangan dan kepuasan ikut berpartisispasi dalam kegiatan. Contohnya seorang pelajar yang bermain sepakbola karena ingin menguasai keterampilan baru. Tipe motivasi kedua yaitu motivasi eksrinsik adalah perilaku muncul karena hal-hal yang berada di luar dirinya. Contohnya adalah pelajar yang berlatih sepakbola untuk mendapatkan popularitas sebagai pemain bola di sekolahnya (Vallerand, 2001). Para ahli kemudian menambahkan konsep ketiga dalam teori ini yaitu amotivasi atau Amotivation, yaitu hilangnya motivasi (Deci & Ryan, 1985 dalam Vallerand, 2001). Kemudian Vallerand mengembangkan teori ini lebih lanjut ke dalam suatu hierarki yang terkait dengan faktor situasional, faktor kontekstual dan faktor global (Vallerand, 2001).

Model teori yang diajukan Vallerand diatas hanyalah salah satu contoh bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks, bahkan dalam teori yang paling mudah dipahami sekalipun. Motivasi bukan hanya bersifat psikologis, namun juga sebuah fenomena sosial dimana bukan hanya melibatkan diri internal individu, namun juga lingkungan dan orang-orang di sekeliling individu.

MOTIVASI SEBAGAI SEBUAH PROSES DINAMIS: PARADIGMA SOSIAL-KOGNITIF MOTIVASI

Riset mengeai motivasi dalam konteks olahraga dan aktivitas jasmani, selama 30 tahun terakhir mengadopsi pendekatan sosial kognitif (Duda, 1993; Duda & Whitehead, 1998; Roberts, 1982, 1984a, 1984b, 1992a, 1992b; Roberts et al., 1997 dalam Roberts, 2001). Motivasi adalah suatu proses sosial kognitif dimana individu menjadi termotivasi atau tidak termotivasi (demotivated) dalam hal pengukuran kompetensinya dalam konteks olahraga prestasi.

Menurut Ford (1992), dari paradigma sosial kognitif,  motivasi dapat didefinisikan sebagai salah satu dari tiga konstruk psikologis yaitu: Tiga konstruk psikologis tersebut adalah 1) tujuan pribadi (personal goals); 2) Bangkitnya perasaan atau emosi terkait dengan pencapaian kompetensi tertentu (emotional arousal); dan 3) keyakinan pribadi terkait prestasi (personal agency beliefs) (dalam Roberts, 2001) . Masing-masing dari tiga konstruk psikologis tersebut membentuk  pola tertentu yang sama, yaitu  memberikan energi (energize), mengarahkan energy tersebut (direct); dan mengatur perilaku individu untuk meraih prestasi (regulate achievement behavior) melalui aktivitas fisik (Roberts, 2001).

Berbagai literature mengenai motivasi berprestasi menyebutkan bahwa individual yang termotivasi selalu berperilaku dengan intensitas tententu yang melebihi rata-rata atlit   di lingkungannya;  mereka belatih lebih keras, berlatih lebih lama, bekerja lebih keras, lebih berkomitmen terhadap latihan, berperforma lebih baik, lebih tahan menghadapi stress, lebih memperhatikan instruksi,  lebih lama berkonsentrasi, lebih cerdik, bertahan lebih lama. Intensitas ini dianggap tipikal atau umum dalam individu yang termotivasi. Maka pertanyaan yang muncul adalah, mengapa seorang individu bersedia berperilaku demikian?

Dalam paradigma sosial kognitif, prestasi adalah suatu usaha pemenuhan tujuan yang dianggap memiliki  makna atau bernilai baik secara pribadi maupun sosial (personal or socially valued goal), maka pengertian ini dapat dielaborasi dengan mudah dalam konteks olahraga atau aktivitas jasmani.

MAKNA PENCAPAIAN PRESTASI BAGI ATLIT DAN PELATIH

Dalam paradigm sosial kognitif, prestasi adalah suatu usaha pemenuhan tujuan yang dianggap memiliki  makna atau bernilai baik secara pribadi maupun sosial (personal or socially valued goal). Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa motivasi adalah suatu kontruk yang dinamis, lebih bersifat sebagai sebuah proses yang mengalir daripada sesuatu yang konkrit atau statis. Proses tersebut dapat memiliki dasar atau basis; sudah ada dalam kepribadian, atau genetis seseorang kemudian dikembangkan, atau dikembangkan melalui pengalaman dan proses belajar.

Penerapannya secara riil adalah, sebelum menurunkan seorang atlit ke dalam pertandingan, pelatih sebaiknya secara berhati-hati meninjau apakah usaha pencapaian prestasi itu memiliki makna sosial kognitif bagi atlit. Apabila tidak, maka kecil kemungkinan motivasi dapat    dibangun dalam diri atlit. Namun, pelatih tetap dapat melakukan hal-hal terntentu atau mengatur kondisi latihan agar motivasi dapat terbangun dalam diri atlit.

Pertama-tama, pelatih harus menyelidiki apakah prestasi yang dicapai itu memiliki nilai atau makna bagi atlit tersebut? Apabila bermakna, makna yang seperti apa yang diberikan atlit pada olahraga tersebut?

Menurut Martens (1987 dalam Gunarsa, 2004) ada 3 jenis kebutuhan penting yang dicari oleh seorang atlet dalam  menekuni olahraga, yaitu: 1) berolahraga untuk kesenangan, memenuhi kebutuhan beraktivitas dan mencari sensasi ketegangan (sensation); 2) Bertemu dengan sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan berinteraksi dengan orang lain atau menjadi bagian dari kelompok; 3) memperlihatkan kompetensinya untuk memenuhi kebutuhan merasa dirinya berharga.

Pelatih harus mengamati alasan mana yang lebih dominan, karena perbedaan kebutuhan ini akan berimplikasi pada bagaimana seorang atlet ingin diperlakukan oleh pelatihnya. Contohnya, atlet yang memiliki kebutuhan berlatih untuk bersenang-senang, ia akan lebih termotivasi berlatih apabila latihan tersebut menawarkan suatu kesenangan bermain dan bersenang-senang,     karena itu pelatih harus menjaga atmosfer berlatih dan bertanding tetap menyenangkan baginya. Berbeda dengan atlit yang dilandasi kebutuhan untuk berinteraksi, pelatih harus senantiasa menjaga komunikasi, menjaga kekompakan tim agar atlit benar-benar merasakan adanya kebutuhan keterlibatan dirinya (sense of involvement) dalam tim. Sedangkan untuk atlit yang memiliki kebutuhan menunjukkan kompetensi yang dominan, pada umumnya menyenangi tantangan dan tugas-tugas baru untuk dikuasai dan pengakuan terhadap kompetensinya. Pelatih harus selalu siap memberikan pujian dan pernghargaan secara pribadi untuk kemajuan yang ditunjukkan, dan mengatur keterampilan-keterampilan baru,     taktik-taktik dan strategi baru untuk dikuasai olehnya.

Apabila teori yang diajukan Marten tersebut dipandang sebagai sebuah teori yang dinamis, maka kebutuhan seorang atlet dalam olahraga dapat berkembang atau berganti sesuai kedewasaannya. Apabila pada awalnya ia berolahraga untuk bersenang-senang dan menjadi bagian dari tim, pada saat mulai menekuni olahraga secara serius, ia seharusnya mulai memiliki kebutuhan untuk dihargai atas kompetensinya dengan mencapai suatu prestasi. Perkembangan ini dapat berkembang dengan sendirinya dalam diri atlet sendiri, dimana secara mandiri ia menyesuaikan diri. Pelatih tetap harus memantau proses ini dan mengawalnya.

Sebaliknya, bisa juga si atlet terjebak dalam satu fase kebutuhan saja, yang mengakibatkan kerugian baginya dan merepotkan orang lain. Misalnya, apabila ia hanya berlatih untuk bersenang-senang, ketika memulai memasuki fase pertandingan dimana ia harus lebih berdisiplin dan menjalani latihan yang lebih berat, atlit yang tidak siap akan berhenti karena berlatih tidak lagi sesuatu yang menyenangkan untuk bermain-main. Pelatih harus mengetahui dan mengantisipasi hal ini lebih dini; kemudian sedari awal, secara terbuka pelatih harus memberikan pengertian mengenai proses tersebut agar atlit lebih siap dalam menjalani fase selanjutnya.

Kemudian, pertanyaan kedua yang harus dipertimbangkan seorang pelatih yaitu apakah prestasi tersebut dihargai secara sosial oleh orang-orang di sekelilingnya? Seringkali seorang atlit potensial berhenti berlatih karena ada desakan dari keluarganya, yang dapat bersifat sosial ekonomi atau karena anggapan menjadi atlit kurang menjanjikan masa depan.

Pelatih seyogyanya juga memperhatikan hal ini; nilai sebuah prestasi sebaiknya seimbang nilainya bagi diri pribadi dan bagi orang-orang sekeliling atlit, antara lain keluarganya, kerabat dan teman-teman sebaya. Seorang atlit juga makhluk sosial yang hidup di masayarakat; maka untuk memastikan seorang atlit terus berlatih dan berprestasi, pelatih sebaiknya juga memperhatikan faktor sosiokultural; akan sia-sia apabila prestasi yang dicapai tidak dihargai oleh keluarganya atau lingkungannya, atlit tersebut akan sulit mempertahankan motivasinya.

Apabila tujuan yang ingin diraih cukup bermakna bagi seorang atlit, dan juga dihargai secara sosial oleh orang-orang di sekelilingnya, maka atlit tersebut baik secara sadar atau tidak sadar akan memunculkan salah satu dari tiga konstruk psikologis berikut: 1) tujuan pribadi (personal goals) yang terkait pencapaian prestasi; 2) Self-Regulation behavior, atau pengelolaan terhadap perilaku untuk mencapai prestasi ; dan 3) keyakinan pribadi terkait pencapaian prestasi, yaitu persepsi seseorang terhadap apa yang ia mampu capai, atau dalam dunia psikologi lazim disebut self-efficacy.

PERSONAL GOALS DALAM PENCAPAIAN PRESTASI

Konstruk pertama adalah personal goals. Atlit harus memiliki tujuan pribadi terkait dengan prestasi. Pelatih sebaiknya juga memperhatikan apakah atlit didikannya telah memiliki sasaran pencapaian pribadi atau belum. Seringkali  atlit hanya berlatih terus menerus tanpa secara sadar memiliki tujuan untuk berprestasi di level tertentu.

Menurut Duda (1993,1997), ada tiga macam personal goal dalam olahraga yaitu process goals, outcome goals, dan performance goals. Process Goals terkait dengan dengan bagaimana suatu sasaran dapat dicapai. Contohnya, untuk keterampilan menedang, seorang pemain sepakbola memfokuskan pada keseimbangan badan ketika menendang. Contoh lain pada seorang perenang yang fokus pada proses melunncur untuk memperoleh catatan waktu yang lebih baik. Outcome goal memfokuskan pada hasil akhir dari tindakan atau perilaku. Contohnya memenangkan pertandingan. Sedangkan performace goal adalah tujuan untuk menguasai suatu keterampilan tertentu yang terukur hasilnya, daripada memperoleh hasil dari suatu pertandingan. Dari ketiga tujuan ini, yang dapat menghasilkan peningkatan terhadap prestasi keseluruhan adalah perfotrmance goal dan process goal, karena hsailnya terukur dan relative dapat dikontrol oleh atlit itu sendiri. Contohnya, alih-alih fokus pada hasil perlombaan, untuk menghasilkan prestasi lebih baik, seorang sprinter lebih memilih untuk focus untuk meraih catatan waktu yang lebih baik dari sebelumnya. Menurut Duda (1997), process goal dan performance goal adalah lebih baik daripada outcome goal, dengan argumentasi bahwa outcome goal adalah sesuatu yang kurang dapat dikontrol, berlainan dengan process dan outcome goals yang relatif dapat dikontrol atau ditentukan sendiri (dalam Gorely, Shaw & Corban, 2005). Atlit yang terlalu fokus pada outcome goals, beresiko untuk pengalami penurunan motivasi atau bahkan kehilangan motivasinya bila tujuan kemenangan yang ingin ia raih gagal didapat, meskipun sebenarnya ia telah menunjukkan perkembangan dalam penampilannya.

Pelatih dapat menyelidiki apakah atlit sudah memiliki personal goals dengan menanyakan secara langsung pada atlit mengenai apa yang ingin ia raih. Namun dapat juga atlit tidak tahu apa yang ingin ia raih. Penyebabnya dapat   karena atlit belum memiliki gambaran mengenai kemampuan dan peluangnya dalam mencapai prestasi; atau memang selama ini ia hanya berlatih karena ikut-ikutan saja tanpa tahu apa yang ingin dicapai dari latihan tersebut.

Pada atlit yang demikian, pelatih dapat secara terbuka memberikan refleksi mengenai bagaimana kemampuannya saat ini dan sampai sejauh apa ia dapat berkembang, kemudian membantu atlit menetapkan sasaran yang dapat ia capai. Sasaran tersebut sebaiknya realistis, tidak terlalu ringan ataupun tidak terlalu berat. Sasaran yang terlalu ringan kurang menantang atlit untuk berkembang dan bisa melemahkan motivasi, terutma abagi atlit yang memiliki kebutuhan menunnjukkan kompetensinya; sedangkan sasaran yang terlalu berat dapat mengakibatkan atlet frustasi bahkan bisa mnegarah ke demotivasi karena ia berpikir tidak mungkin prestasi itu bisa ia raih. Yang terpenting, harus ada sasaran dalam jangka pendek dan jangka panjang yang sebaiknya baik atlit dan pelatih sama-sama mengetahuinya.

REGULATION BEHAVIOR: PENGELOLAAN DAN PENGORGANISASIAN PERILAKU UNTUK MENCAPAI PRESTASI

Ketika sasaran atau personal goals sudah ditetapkan, untuk mendapatkan prestasi maka harus ada serangkaian perilaku yahg diatur untuk mencapai hal tersebut. Disinilah personal goals menjalankan fungsinya mengarahkan perilaku. Menurut Locke dan Latham (1990), sebuah tujuan merefleksikan apa yang ingin dicapai seorang individu dan merepresentasikan tindakan-tindakan spesifik yang dilakukan individu tersebut untuk mencapai tujuannya (dalam Hall & Kerr, 2001). Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat berbagai variabel lain yang menghubungakan antara personal goals dengan prestasi, dua diantaranya adalah : 1) kapasitas individual; dan 2) komitmen (Locke & Latham, 1990; Erez & Zidon, 1984 dalam Hall & Kerr, 2001).

Kapasitas individual yang memenuhi syaratmutlak diperlukan  untuk untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya kemampuan fisik, teknik, latihan yang diperlukan, fasilitas, dan usaha-usaha lain yang mendekatkan individu terhadap tujuan, (Crawford, White, & Magnusson, 1983; Pritchard, Bigby, Beiting, Coverdale, and Morgan, 1981 dalam Hall & Kerr). Implikasinya dalam latihan adalah pelatih harus berhati-hati dalam memberikas ekpektasi atau menetapkan sasaran harus memperhatikan kapasitas individual yang dimiliki seorang atlit, serta memperhatikan aksesibilitasnya terhadap fasilitas latihan yang memadai, pengembangan keterampilan dan teknik-teknik yang diperlukan. Artinya, kapasitas individual ini bukan hanya berkaitan dengan potensi pribadi atlit untuk berkembang; namun juga kapasitas lingkungannya dalam menjamin ketersediaan fasilitas, program latihan dan dukungan untuk semakin mengembangkan kemampuannya.

Adalah tugas pelatih untuk memastikan atlit tetap berlatih  dalam koridor program latihan yang benar yang membantunya mencapai prestasi tersebut. Ini berkaitan dengan pemrograman latihan secara keseluruhan. Apabila atlit menunjukkan komitmen yang lemah terhadap pencapaian tujuan tersebut, pelatih dapat menerapkan strategi-strategi tersebut. Yang terpenting adalah jangan sampai terjadi kasus atlit termotivasi, sudah memiliki sasaran pribadi, namun gagal karena pelatih yang tidak kompeten.

Kemudian dalam hal komitmen, serangkaian penelitian untuk meningkatkan komitmen dalam berlatih telah banyak dilakukan. Komitmen terbukti berhubungan dengan: 1) figur otoritas yang ikut berperan menetapkan tujuan, misalnya orang tua atau pelatih (Latham, Erez, & Locke, 1988), 2) peniruan, pengidolaan terhadap prestasi rekan latihan atau peer modeling of performance (Earley & Kanfer, 1985); 3) penawaran imnsentif atau hadiah/rewards (Oldham, 1975); 4) pernyataan atau pembicaraan personal goal secara terbuka (Hollenbeck, Williams, & Klein, 1989), dan 5) tingkat partisipasi aktif orang-orang di sekitar atlit terhadap pencapaian tujuan, misalnya keterlibatan teman latihan, orang tua atau teman sebaya (Erez & Arad, 1986 dalam Hall dan Kerr, 2001). Variabel-variabel yang berhubungan dengan komitmen diatas dapat digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan komitmen latihan.

Hasil-hasil penelitian diatas dapat langsung dipergunakan pelatih untuk mengatur kondisi latihan agar dapat memeberikan dukungan terhadap munculnya komitmen dalam diri atlit. misalnya, dengan menggabungkan latihan pemain yang lebih senior sebagai contoh teladan dengan pemain junior yang lebih muda; pembicaraan atau diskusi terbuka mengenai sasaran yang ingin diraih; mengajak dialog orang tua atau wali atlit untuk ikut mendukung pencapaian prestasi anaknya, serta berbagai cara lainnya yang dapat mendukung terciptanya komitmen berlatih.

SELF-EFFICACY ATAU KEPERCAYAAN DIRI

Ketiga, Self efficacy atau keyakinan bahwa dirinya mampu meraih prestasi tersebut. Efikasi diri sering dikaitkan dengan kepercayaan diri (Selk, 2009). Self-efficacy adalah penilaian seseorang untuk menilai kemampuannya sendiri untuk mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan-tindakan untuk meraih tujuan tertentu (Bandura, 1977,1986). Shaw et al (2006) menyatakan self-efikasi sama dengan kondisi kepercayaan diri atau state confidence, sedangkan Selk (2009) menyatakan efikasi diri sama dengan kepercayaan diri.

Menurut Bandura, ada empat sumber utama Self-efficacy, yaitu: 1) keberhasilan menguasai keterampilan (performance accomplishments), yaitu apabila di masa lalu seseorang berhasil menguasai suatu keterampilan, maka ia akan cenderung yakin akan tugas mengasai keterampilan yang baru di masa depan, termasuk-tugas-tugas yang lebih kompleks. 2) pengalaman yang terwakili atau vicarious experience, yaitu apabila ada  orang lain yang mampu mengasai seseuatu atau mencapai sesuatu, maka akan menimbulkan self-efficacy. Ini dicontohkan dengan pernyataan “kalau dia bisa, saya juga bisa”. Pelatih yang mampu meramu konfigurasi anggota tim sehingga terdapat satu-dua figur dalam tim yang menjadi sumber vicarious experience, maka self-efficacy akan lebih mudah ditimbulkan dalam diri anggota tim yang lainnya; 3) persuasi langsung atau verbal persuasion, yaitu pernyataan dari orang lain bahwa seseorang mampu melakukan suatu keterampilan atau meraih suatu prestasi, contohnya bila pelatih mengantakan kepada atlit “saya yakin kamu bisa melakukan itu”; dan 4) kondisi fisiologis, yaitu seberapa nyaman kondisi fisiologis seseorang dalam melakukan sesuatu. Seseoarang yang merasa nyaman secara fisiologis dalam melakukan sesuatu akan lebih mudah menimbulkan self-efficacy.

Salah satu atribut kepribadian yang dimiliki atlit-atlit besar dunia adalah kepercayaan diri. Pelatih juga harus memantau apakah atlit telah memiliki keyakiann pasti mengenai sasaran yang dapat dicapainya itu. Dengan dibantu program laihan yang benar serta perhitungan yang cermat dalam taktik dan strategi, ditambah keyakinan diri, seorang atlit dapat menjadi pemenang.

KESIMPULAN

 Atlit dapat dikatakan benar-benar memiliki motivasi bila terlihat dari perilakunya berlatih dan bertanding, namun naik turunnya motivasi, bagaimana mempertahankan motivasi, serta menumbuhkan motivasi berprestasi yang stabil pada atlit itulah yang tidak mudah dilakukan. Terlebh lagi, motivasi tidak dapat dimunculkan secara instan, namun merupakan suatu proses yang memembutuhkan dukungan baik dari dalam diri atlit sendiri maupun dari lingkungannya.

Pemahaman mengenai motivasi dapat tercapai apabila para pelatih dan kalangan olahraga memahami motivasi sebagai suatu proses yang dinamis, alih-alih sebagai sesuatu yang statis. Motivasi bukan sesuatu yang dapat dimunculkan tiba-tiba sebagai obat mujarab, namun memerlukan suatu proses yang memakan waktu, dimana proses tersebut erat kaitannya dengan proses yang dijalani atlit dalam latihan serta dukungan lingkungan terhadap aktivitasnya.

Dengan memahami motivasi dari paradigma sosial-kognitif, baik atlit maupun pelatih dapat menyadari bagaimana sesungguhnya proses terjadinya motivasi, sehingga secara sadar dapat mengatur diri dan lingkungannya.

DAFTAR RUJUKAN

Gorely, T, Shaw, D. & Corban, R. 2005. Instant Notes on Sport Psychology. New York: Taylor & Francis.

Gunarsa, Singgih. 2004. Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hall, H.K., & Kerr, A.W. 2001. Goal Setting in Sport and Physical Activity: Tracing Empirical Developments and Establishing Conceptual Direction. Advances on Motivation in Sports. Illinois: Human Kinetics.

Mellalaeu, S. D. & Hanton, S. Advances in Applied Sport Psychology. New York: Routledge.

Roberts, Glyn. C. 2001. Understanding the Dynamics of Motivation in Physical Activity: The Influence of Achievement  Goals on Motivational Process. Advances on Motivation in Sports. Illinois: Human Kinetics.

Selk, Jason. 2009. Ten Minutes Touhness: the Mental Training Program for Winning Before the Game Begins. San Francisco: Mc. Graw Hill.

CATATAN : tulisan ini dimuat di Jurnal Sport Science, Volume 1, Nomor 2, Desember 2009.  Mohon mencantumkan sumber bila anda ingin mengutip artikel ini. Untuk diskusi lebih lanjut tentang topik ini, bisa mengirimkan email ke kursniper@gmail.com