Pencak Silat Decorates the Raid

Saat saya menulis tulisan ini, film The Raid, dibintangi Iko Uwais sudah lama beredar. Saya sendiri menontonnya bersama teman-teman pelatihan DIKTI di bioskop 21 BIP Bandung. Motivasi menonton karena penasaran, tapi bukan penasaran temntang actionnya, cuma penasaran mendengar status teman-teman di FB yang mengatakan kalau film ini sarat dengan kekerasan, makian, kesadisan dari awal hingga akhir. Masa sih ? Masa pencak silat bisa disandingkan dengan kekerasan seperti itu ? nah, makanya aku nonton,…
Menit-menit pertama aku menontonnya, betul ini film benar-benar sadis dan kasar. Tapi yang sedikit mengecewakan adalah gambaran tim polisi yang menyerbu gedung itu, kesannya nggak kompak  banget gitu lho, di awal-awal Godfred dengan Rama (Iko) sudah  betengkar perkara orang sipil yang mau masuk gedung nganterin obat. Halah,… mana boleh tim polisi nggak kompak kayak gitu. Tapi,  dengan sabar aku mengikuti jalan ceritanya.

Rasanya empatpuluh hingga satu jam berikutnya isinya adalah aksi terus. Tembakan, cipratan darah, aksi kekerasan dan ledakan, serta visualisasi bacokan dan tembahan yang vulgar terus menerus ditayangkan silih berganti, seolah-olah memang menunjukkan secara jelas posisi film ini; ini adalah film action murni, silahkan lihat atau balik kanan; saya kira, tiga orang yang nggak boleh nonton film ini adalah; penakut, anak-anak dibawah umur dan yang punya jantung lemah.

The Raid bukan film yang menjual cerita, pencak silat atau sekedar nama Iko Uwais; The Raid adalah film yang menyuguhkan action murni. Very pure action, dengan pencak silat sebagai dekorasinya. Yes, bagiku, pencak silat disini adalah dekorasi yang membuat film ini distinctive (berbeda). Teknik bertarung Iko Uwais, tidak seperti dalam Merantau, tidak menunjukkan style aliran tertentu, tetapi murni beladiri pencak silat yang diaplikasikan dalam kondisi emergency polisi. Para pengamat film action akan berdecak kagum melihat teknik-teknik bertarung yang belum pernah ada di film action lain, guntingan kaki di udara, permainan serangan tangan dalam jarak pendek, bantingan  yang memotong kepala, dan sebagainya,…. tetapi maaf, aku benar-benar melihat kalau teknik-teknik itu sering digunakan dalam pertandingan pencak silat kaegori Ganda. Bahkan , ada beberapa gerakan yang mencontoh teknik Ganda Putri dari suatu daerah…. (maaf saya membocorkan rahasia, tapi sesama atlit pencak silat pasti berpikiran sama dengan saya) Apakah teknik itu berbahaya? Yes absolutely,   tetapi itulah memang pencak silat. Indah sekaligus berbahaya. Dan, saya lihat dalam The Raid, itulah dekorasi yang menjadi kekuatan film ini. Mengapa saya sebut dekorasi ? tentu saja karena nilai pencak silat yang sesungguhnya menjunjung tinggu etika dan keluhuran budi tidak dicantumkan dalam film ini (para tetua dan senior pencak silat bisa kecewa kalau menonton film ini). Tapi, ya iyalah,….. lha wong ini film pure action, punya genre tersendiri.

Kekuatan lain yang saya lihat dalam film ini adalah penggarapan grafisnya yang sangat detil. Saya merasa dipaparkan sebuah dunia (mungkin Jakarta atau anywhere) yang sangat riil, gelap, basah dan kotor. Seolah-olah saya yakin bahwa dinding kayu tempat Rama dan Jaka bersembunyi benar-benar terbuat dari kayu tua. Seolah-olah kamar-kamar kotor dalam apartemen tersebut benar-benar dunia suram para kriminal dan pecandu narkoba. Perabot murah berkarat, darah lengket, tembok yang kotor berlumut, saya merasa harus mengacungi jempol pada Gareth Evans untuk yang ini. Jujur saja, film yang settingnya riil seperti ini yang saya sukai.

Overall, sekali lagi saya menyimpulkan bahwa ini adalah film pure action at its peak, jadi siap-siap saja tahan napas dari awal hingga akhir. Jeda mengambil nafas buat anda mungkin cuma beberapa scene yang kemudian akan disususl adegan menagangkan berikutnya. Kalau dari pandangan saya sebagai sport psychologist, bagia anda atlit beladiri yang punya masalah “kurang agresif”, slahkan nonton film ini. Saya sendiri merasakan insing agresifitas saya sedikit bangkit setelah menonton film ini, malah salah satu teman FB yang atlit pencak silat mengaku jujur setelah nonton fulm itu bawaannya mau tawur aja. Jadi sebagai treatment, film ini juga cocok untuk ditonton, sekaligus buat latiha ketahanan psikis. Sekedar tambahan, saat menjadi atlit dulu saya dinilai kurang agresif dan kurang penghayatan (kata pelatih, saya nggak punya ekpresi wajah kejam), lalu pelatih menyodorkan film-film actionyang harus saya tonton. Saya ingat beberapa judulnya antara lain Platoon, Enemy at the Gates, Black Hawk Down, sampai suspense perang Courage under Fire… dan saya berlanjiut menjadi penggemar film action dan beladiri.

Last for the least, kalau anda nggak percaya teknik the Raid itu banyak digunakan di Kategori Ganda pencak silat, bisa lihat tautan di Youtube tentang cuplikan Pertandingan Pencak Silat di PON XVII di bawah.

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Video | Pos ini dipublikasikan di pencak silat & martial arts dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s