Perjalananku Mencari Beasiswa part 1 – Langkah Awal Menjadi Scholarship Hunter

Kalau anda membaca tulisan, ini, kemudian berpikir bahwa saya adalah seorang penerima beasiswa luar negeri yang telah sekolah di suatu tempat di luar negeri, anda keliru. Saat menulis ini, saya masih dalam pencarian memburu beasiswa.

Namun saya tergerak untuk membagikan pengalaman ini karena ; 1) sebagai dokumentasi pejalanan saya mencari beasiswa; 2) agar teman-teman sesama scholarship hunter juga bisa memetik manfaatnya; 3) agar teman-teman sesama olahragawan juga mengetahui kalau ada banyak kesempatan menjanjikan yang bisa diraih lewat olahraga. Dan, rather that telling about the past, I prefer to talk about present. Daripada bercerita masa lalu, saya lebih suka bercerita masa sekarang. Dan here I am, seorang scholarship hunter.

Sebelumnya, saya akan sedikit bercerta tentang status saya saat ini. Saya bekerja sebagai Dosen di Fakultas Olahraga sebuah Univesitas Negeri. Sebelumnya saya sudah menempuh S1 dan S2 bidang psikologi, tetapi karena punya latar belakang atlit, saya tertarik mendalami psikologi olahraga dan akkhirnya mengajar di fakultas olahraga. Saat ini saya masih memburu scholarship untuk S3 bidang sport psychology, target negara Australia atau Inggris. Kukira itu cukup.

Ketertarikanku mencari beasiswa bermula dari sebuah formulir bermaterai yang disodorkan kepada saya saat diterima menjadi CPNS. Disitu intinya saya harus menandatangani surat “bersedia melanjutkan sekolah ke luar negeri”. Okelah, saya tanda tangani, dan mulailah status saya sebagai seorang “scholarship hunter”

(btw, untuk seorang mantan olahragawan seperti saya, film Finding Forrester tentang atlit basket yang mendapatkan beasiswa sangat menginspirasi)

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi beasiswa. Beasiswa pertama yang saya ketahui adalah Erasmus Mundus dari persatuan Eropa. Kemudian beasiswa AUSaid yang populer dengan ADS dan ALA-nya, lau DAAD dari pemerintah Jerman, Beasiswa dari Beligia VLIRUOS, Belanda dengan STUNED, Jepang MOBUNSHO, dll…. dan tentu saja beasiswa Luar Negeri (BLN) dari DIKTI. Tetapi, tidak semua memprioritaskan bidang Sport psychology. Jadi saya harus metani satu-satu beasiswa yang match dengan minat saya. Taktiknya, saya mencoba untuk memasukkan Sport psy untuk masuk ke bidang Health atau Psychology.

Ohya, kalau mau mencari info beasiswa, banyak sekali situs yang menampilkan info tentang ini. antara lain scholarship cafe, milis beasiswa di yahoogroups.com, dll,… pokoknya cykup ketikkan “beasiswa luar negeri” digoogle, pastilah keluar banyak hasil.

Kedua, mencari universitas yang menyediakan program yang saya minati. Saya masuk ke topuniversities.com dan mengetikkan “sport psychology ” ke kolom pencarian. Keluar deh uni yang top di bidang itu. Kalau di Australia, bisa masuk ke CRICOS (http://cricos.deewr.gov.au/), disana kita bisa mencari uni-uni di Aussie yang menyediakan program-program tertentu. Untuk Inggris, saya mencari lewat rae.ac.uk , itu adalah situs yang menyediakan profil kualitas universitas di Inggris berdasarkan publikasi jurnalnya. Kalau ke Jerman bisa lewat DAAD, atau http://www.study-in.de/en/. Yang ingin kuliah ke Malaysia (meskipun saya nggak berminat) bisa lewat studymalaysia.com. Nah, berbagai dari situs-situs itu, baru saya masuk ke situs uni dan mencari potential supervisor.

Ketiga, mencari Supervisor. Kalau kuliah S2 Coursework sih gak usah, tapi kalau kuliah S2 Research dan S3 harus punya supervisor dulu. Saya mengtahui hal ini lewat blognya pak Andi Arsana (madeandi.com — very recomended untuk pemburu beasiswa) dan pak Budi Susila (orangjawangambildoktordiaustralia.blogspot.com). Caranya, masuk ke situs uni, klik departemen yang menyediakan program tsb, klik di academic staff, dan keluarlah biodata foto-foto para professor mereka berikut research interest dan email adress-nya. Tinggal dipilih, lalu kirimi mereka email. Taktik lain, saya mengirimi Kepala Departemennya (Dekan atau mungkin Ketua Jurusan kalau disini ), berkut CV dan research proposal untuk minta tolong dicarikan profesor yang bersedia membimbing. Eh berhasil juga … Saat pertama kali melamar ADS tahun 2011, saya mendapatkan tiga calon supervisor dari Victoria University dan University of Queensland. saya terkesan juga dengan respon mereka yang sangat welcome dengan email saya yang (mungkin) amburadul bahasanya, meskipun banyak juga professor yang tidak membalas atau menolak dengan sopan.

keempat, saya mengumpulkan sebanyak mungkin info mengenai bagaimana mengisi formulir beasiswa. Saat meng-apply ADS dulu, saya konsultasi dengan teman yang pernah kuliah disana, ADS juga. Dan saya juga meminta seorang teman dari jurusan bahasa Inggris untuk melakukan proofreader (mengoreksi) kalimat-kalimat isian formulir dalam bahasa Inggris. Ribet memang, tapi harus dilakukan.  Saya juga mengirim email ke pak Andi dan pak Budi untuk berkonsultasi tentang ADS.

Nggak cukup, saya cari dosen atau orang sport psychology yang lulusan Australia. Caranya bagaimana ? Lewat Internet semua bisa ! Saya tinggal masuk ke situs universitas di indonesia yang diperkirakan punya fakultas olahraga, lalu melihat CV dosennya. Cara ini mengantarkan saya untuk berkenalan dengan Prof Danu Hoedaya (UPI) dan bu Yuanita Nasution. Ternyata, lulusan sport psy dari luar negeri di Indonesia bisa dihitung jari. Pantas aja olahraga kita masih sulit maju … hehehe.Kepada prof Danu, saya juga mengkonsultasikan research proposal saya, dan bahkan beliau berbaik hati mengoreksinya.

Cuma saya bikin kesalahan fatal saat ngisi formulir ADS; saya pilih “other” di kolom Priority Development Areas (PDA) dan mengisinya dengan “sport psychology” : karena ngerasa pede banget masa satu-satunya pelamar sport psy nggak diterima? Ternyata salah besar … jadi, lamaran pertama ke ADS gagal. ADS ternyata sangat memperhitungkan PDA para pelamar beasiswa. Jadi lebih baik, kecuali kalau anda datang dari wilayah Indonesia Timur, jangan pilih “other” deh di PDA.

Kalau mau melamar ADS, cobalah bidang minat itu dicantolkan ke salah satu PDA-nya, demikian nasihat pak Andi. Untuk research proposal saya yang judulnya “Gender Differences on Mental Toughness, Aggressiveness and Perception of Pain among Combat Sport athletes” bisa dimasukkan ke PDA Health atau gender studies. Ya, ya,… belajar dari pengalaman, saya akan mencoba taktik itu tahun ini …

(bersambung)

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di beasiswa dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s