Perjalananku Mencari Beasiswa Part 2 – Pelatihan Bahasa Gratis dari DIKTI …

singkat cerita, 6 bulan yang lalu saya dipanggi kepala bagian administrasi fakultas untuk ikut ujian saringan pelatihan bahasa Inggris DIKTI. Sebenarnya waktu itu aku nggak begitu berminat karena aku kelewat PD dengan bahasa Inggrisku (waktu itu  TOEFL ITP saya 537–kepedean banget emang), lagi pula pelatihannya 6 bulan di luar kota lho,… meninggalkan keluarga terutama anakku yang baru 1 tahun berat rasanya… tapi akhirnya aku tetap mengikuti ujian itu.

Lanjut cerita, aku ikut ujian saringan untuk pelatihan itu. Ujiannya ternyata IELTS-like, tapi sumpah waktu itu aku belum pernah ikut IELTS jadi kebingungan banget waktu Listening, dan waktu speaking aku baru sadar kalau ternyata Inggrisku emang masih terbatas, tapi overall hasilnya aku diterima. kemudian berangkatlah aku ke Bandung, tepatnya di UPT bahasa ITB.

DIKTI sebenarnya menyediakan kesempatan bagi dosen untuk mengukuti pelatihan bahasa, dan ini terbuka untuk dosen PTN dan PTS. Biasanya diadakan setahun 2-3 kali. Hanaya saja pelatihan ini hanya diadakan di kota=kota tertentu yaitu Jakarta (IALF), Bandung (ITB), Yogyakarta (UGM), Surabaya (IALF), Malang (UM), dan Denpasar (IALF). Peserta yang berminat harus mengikuti ujian seleksi masuk dahulu, dan meskipun ini hanya rumor yang belum saya buktikan kebenarannya, minimal IELTS 5.5 untuk bisa diterima di pelatiha  ini. Peserta juga harus menempati pelatihan di luar propinsi tempatnya mengajar, alasannya (katanya) supaya bisa lebih fokus. Di akhir pelatihan, peserta akan menjalani IELTS test yang nantinya bisa dimanfaaatkan untuk melamar beasiswa.

Peserta akan mendapatkan living allowance dari DIKTI dan biaya transportasi pulang=pergi juga, tetapi untuk tahun ini ada ketentuan yang ketat dari DIKTI tentang hal itu; living allowance baru diberikan DIKTI di akhir pelatihan dengan syarat nilai IELTS minimal 6.5 dan kehadiran minimal 85% ! kalau kehadiran kita kurang dari 85%, maka akan dikenai sangsi membayar sebanyak 20 juta. betulan lho ini ! Katanya, tujuannya agar peserta benar=benar berkomitmen untuk mengikuti pelatihan. I call it motivation by fear.

mungkin tujuan lain dari peraturan yang ketat itu untuk menyeleksi peserta yang benar-benar ingin mengikuti pelatihan untuk berangkat keluar negeri. Bukan apa=apa, aku dengar banyak cerita sebelum peraturan yang ketat ini diberlakukan, banyak dosen yang mengikuti pelatihan tapi jarang hadir (baca: ngerjain proyek di Luar) dsb karena rewardnya (living allowance) udah dikasih duluan dan nggak ada punishmentnya. sekarang? udah living allowance d akhir ada ancaman denda 20 juta lagi.  tidak heran peminat pelatihan bahasa ini menurun drastis. Saat batch II dibuka, yang mnegikuti pelatihan di ITB menurun jadi hanya 9 orang (padahal batch I angkatanku 38 orang). tapi mungkin peserta lainnya memilih pelatihan di kota lain.

kenyataannya banyak juga peserta yang tetap nekat ikut pelatihan meskipun biaya hidup ditanggung sendiri. semuanya demi IELTS tinggi supaya bisa keluar neger. Lagipula, dengan kualitas pengajar dan kualitas materi yang bagus, menurutku worthed kok.

di Pelatihan itu  aku berkumpul dengan dosen-dosen lain dari berbagai kota, tapi kebanyakan memang dari Malang. Kami sering sharing mengenai informasi, tips dan trik beasiswa. Bukan hanya kursus saja, tetapi kami juga sering dipanggil untuk menghadiri sosialisasi beasiswa dari berbagai negara dan universitas. Dari sosialisasi itu aku baru tahu kalau untuk S3 psychology dan ilmu humaniora lainnya, IELTS yang diperlukan untuk syarat diterima adalah minimal 7 !!!! gubrakk… syok juga aku, mengingat waktu diterima skorku cuma 5.5. Tapi nggak apa-apa, nothing is imposibble.

Ilmu sosial dan humaniora seperti psikologi, kesehatan, hukum, mensyaratkan IELTS atau TOEFL yang cukup tinggi. Berbeda dengan ilmu yang lain yang tidak terlalu membutuhkan kepekaan berbahasasa seperti teknik, fisika, dsb… IELTS skor 6 sudah cukup untuk mendapatkan LOA (Letter of Acceptance). Kalau urusan bahasa Inggris jangan ditawar deh, kalau ingin beasiswa keluar negeri hukummnya wajib.

Saat menulis tulisan ini, saya masih menjalani pelatihan bahasa Inggris. IELTS test yang menjadi penanda akhir pelatihan akan diadakan beberapa hari lagi, dan kemudian pelatihan ini akan berakhir. Isu tentang living allowance apakah diberikan atau tidak, masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan teman-teman.

Salah satu yang membuat saya bersyukur menjadi Dosen adalah fasilitas yang disediakan pemerintah untuk kami. terlepas dari anggapan kalau institusi pemerintah seperti Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) itu begini dan begitu,… saya melihat bagaimana mereka berusaha untuk mencerdaskan bangsa dengan mencerdaskan para dosen lewat Program Beasiswa Luar Negerinya. Dan memang kendala paling besar adalah masalah bahasa… kalau otak (katanya) orang Indonesia nggak kalah dari negara lain….

btw, katanya-katanya yang aku masukkan disini adalah informasi yang beredar yang masih harus dicek ulang kebenarannya. tapi kalau anda dosen dan berminat ikut pelatihan bahasa DIKTI, silahkan uptodate terus pengumuman-pengumuman di dikti.go.id

(BERSAMBUNG)

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di beasiswa. Tandai permalink.

6 Balasan ke Perjalananku Mencari Beasiswa Part 2 – Pelatihan Bahasa Gratis dari DIKTI …

  1. Miss Pradipta berkata:

    mas, ada bocoran info gak? kapan lagi DIKTI mw adakan pelatihan bahasa gratis? saya mau… tapi selalu telat dpt info. terimakasih

  2. Nice share, mba. Thanks..
    Oya buat mba Pradipta sekarang sedang dibuka Pelatihan Bahasa Inggris dari Dikti. Terakhir pendaftaran 11 Nopember ini.

  3. Alvi Rose berkata:

    hmmm .. pelatihan begituan ada yg gratis g buat pencari beasiswa S1..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s