Perjalananku Meraih Beasiswa part 3 – Pergulatan Seorang Ibu

Gambar

Sudah seminggu ini, saya menerima kabar dari suami kalau Dika – buah hati kami mengalami periode “tidur larit malam”. Dika, umurnya genap 1,5 tahun bulan depan, sebenarnya masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Tetapi bagaimana lagi, pelatihan bahasa Inggris di kota Bandung membuat aku terpisah dengan Dika. Sebagai konsekuensi, hampir seminggu atau dua minggu sekali aku selalu pulang ke Malang, naik kereta atau pesawat Bandung-Surabaya. Semua tiket promo AirAsia dan tiket kereta aku borong, dan sebagian besar penghasilanku memang terkuras disitu, tapi tidak apa-apa, demi anak.

Dika sudah hapal kalau ibunya bekerja dari pagi hingga sore, dan waktu berduaan dengan ibunya adalah saat malam hari ketika dia menonton Dora the Explorer atau Pocoyo sambil tidur-tiduran di perutku. Tidurnya memang malam, diatas jam 10 malam… dan hampir dua minggu terakhir ini tidur tengah malam, bahkan lebih. Di malam hari, suamiku bercerita kalau Dika sering menggigau “Ibu..Ibu”, dan kalau tak sengaja melihat fotoku di HP dia akan mencari. Biasanya kalau sudah seperti itu, ibu mertuaku yang turun tangan, ngeloni Dika sampai dia tertidur. Hal ini tetntu saja membuatku merasa dilematis, tetapi suamiku sering menasihati agar aku fokus pada pelatihan, “jangan terlalu kangen, kalau kamu kangen Dika jadi rewel”. Jadi, hampir enam bulan ini aku berusaha menjalani pelatihan sebaik mungkin. Segala macam kegiatan aku lakukan supaya sibuk, mulai dari latihan soal, blogging, melatih pencak, jogging, jalan-jalan dan hang-out, apa saja.

Ini baru Malang – Bandung. Gimana kalau sudah keterima beasiswa, misalnya aku diteruma di Inggris bagaimana? di Australia bagaimana ? Malang – Bandung sih bisa pesan tiket kereta Malabar sewaktu-waktu, tapi kalau ke luar negeri,… jangan lupa hitungannya dollar dan kita juga bukan jadi orang kaya disana. Hal ini yang masih membuatku dilematis, ragu-ragu dalam melamar beasiswa tahun ini.

Dilema seperti ini akan dialami semua orang. Salah satu temanku pelatihan suskses mendapat beasiswa DIKTI ke university of Queensland; dan melihat ribetnya persiapan yang harus dia lakukan sembari pelatihan, aku menjadi berpikir apakah aku sudah siap?

Suamiku ingin aku berangkat saat Dika minimal berusia 2 tahun. Dan, tentu saja melihat kondisi dan situasi, apakah nantinya keluarga akan ikut atau aku sendirian saja yang berangkat. Hidup di Bandung selama 6 bulan memang membuatku berpikir; siapkah aku jauh dari keluarga ? Aku tidak meragukan kemampuanku beradaptasi dengan lingkungan, tetapi aku meragukan ketahanan emosionalku untuk hidup berjauhan dari mereka.

Kemudian, ke negara mana aku menuju? Eropa, Australia, Amerika ? Tentu saja living cost, biaya perjalanan, biaya visa dan sebagainya harus menjadi pertimbangan. Aku mengumpulkan informasi sebanyak mungkin lewat internet. Bisa dikatakan, aku sudah mencicil persiapan, meskipun beasiswanya yang belum dapat. Aku membayangkan, bila hidup di Australia, mungkin aku akan bekerja part-time hanya untuk tiket pulang,… tetapi kalau keterimanya di Inggris? Inggris juga sangat menggiurkan untuk tempat sekolah, disana banyak expert di bidang Sport Psychology.. apalagi di amerika (but US is out of my list). Kalau boleh aku sebenarnya nggak keberatan ke Cina, mereka juga punya Beijing Institute of Sport, tetapi… nggak ada kuliah kelas internasional untuk sport psy disana. Semua pergulatan pikiran ini bercampur jadi satu.

Dan satu hal yang penting,… aku tidak ingin kehilangan momen Dika bertumbuh besar. Usianya masih kecil,.. sepintar-pintarnya kita, sesukses-suksesnya kita, momen itu adalah momen-momen kecil yang berharga. Sangat berharga untuk dilewatkan.

Tetapi,… memang melanjutkan sekolah juga penting untuk masa depan keluarga. Ada yang menyarankan untuk lebih baik berangkat sekarang mumpung dia masih kecil, karena saat masuk SD akan lebih banyak membutuhkan biaya, dan saat itu tidak perlu bingung lagi mengatur pembiayaan. Aku sendiri, secara prinbadi tidak ingin Dika keenakan hidup di negara lain, karena kampung halamannya adalah Indonesia.

inilah dilema seorang ibu. Saya kira, seorang pelamar beasiswa harus siap bergulat dengan pemikiran semacam ini.

Suamiku bilang : “Totoen atimu dhisik” — tatalah hatimu dulu.I agree with every word.

(bersambung)

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di beasiswa dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s