Riset Kualitatif di Sosioantropologi ilmu Keolahragaan : Sederhana, Unik, dan Menarik

Semester lalu, di matakuliah Sosioantropologi saya menugaskan mahasiswa untuk membuat artikel ilmiah sederhana mengenai fenomena-fenomena olahraga yang terjadi di sekitar mereka, Fenomena itu sebaiknya apa mereka alami sendiri, bisa diamati secara langsung, dan terjadi di kehidupan sehari-hari. Artikel ini sekaligus sebagai pengganti UAS. Untuk matakuliah ini, saya memang tidak mengadakan UAS, tetapi presentasi secara berkelompok (2-3 orang) dan keaktiva, di kelas. Saya sengaja melakukan ini karena rata-rata mahasiswa FIK sangat asertif tetapi kurang memiliki tatabahasa dan kosakata (well, kebiasaan orang lapangan, saya juga mengalaminya dulu). Saya menerapkan artikel ini seperti mini skripsi. Jadi ada pengajuan judul terlbih dahulu, kalau diterima lanjut, kalau ditolak buat lagi yang baru, lalu kalau sudah dibuat kalau tidak ada analisis teori dan pembahasannya juga akan dikembalikan dan memperbaiki. Alhasil, ada beberapa mahasiswa yang langsung mulus presentasi makalahnya untuk ujian akhir, dan ada juga yang harus memperbaiki 3 sampai 4 kali dulu. 

Sebenarnya, tujuan saya adalah supaya mereka bisa aware dengan fenomena olahraga dan human movement yang terjadi di sekitarnya. Karena kalau menjadi ilmuwan olahraga, saya berasumsi kita harus bisa mengenali sesuatu yang menarik, sebuah permasalahan, dan mampu menuliskannya. Untuk menulis, tentu saja harus banyak membaca buku, apalagi mengenalisanya menggunakan frame teori sosioantropologi tertentu,.. wow, sebenarnya ini tugas yang sulit sebagai sebuah UAS matakuliah. Mahasiswa semester akhir yan mengulang matakuliah ini juga mengatakan kalau “tugasnya sulit bu, ini seperti skripsi” ,… ketika saya tanyakan sulitnya dimana, mereka mengakui bahwa “menuangkan pikiran ke dalam tulisan dan mencari teorinya” adalah hal yang sulit. Well, saya berpikir alam hati: kalau yang pertama, itu memang sulit. Saya aja masih belajar. Kalau yang kedua, itu ridiculous, kalau kesulitan ngambil reori terus kamu ngapain aja di kelas satu semester ini? tidur ? 

Anyway, beberapa mahasiswa menelurkan karya yang menurutku snagat distinctive. Sementara teman-temannya banyak yang membahas mistisime, perdukunan, tawuran dalam olahraga, ada mahasiswa yang mengambil judul unik seperti : “Fenomena Petandingan Sepakbola menggunakan Daster Sebagai Bagian Perayaan 17 Agustus”, “Fenomena Anak-anak Bermain Sepakbola Tanpa Alas Kaki di Desa…. “, “Permainan sepkbola di Desa yang Menggunakan Batu Bata Sebagai Gawang”, “Mitos celana dalam Terbalik sebagai Penolak Bala dalam Pertandingan Bola Voli di Wilayah Bondowoso”,… membaca semua karya ini, mau tidak mau saya tersenyum. Salut dengan karya-karya yang begitu jujur ini, dan usaha mereka untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa ilmiah, serta menemukan teori yang tepat, jelas itu tidak mudah. 

Keunikan karya-karya tersebut, menurut saya justru mengungkapkan hal-hal tentang olahraga yang terjadi di masyarakat, yang luput dari ranah penelitian. Banyaknya fnomena perdukunan yang ditulis mahasiswa, menunjukkan kalau masyarakat masih menganut paham “meraih kemenangan secara instan” (salah satu mahasiswa menuliskan ritualnya dengan sangat detil). Topik kedua terbanyak adalah topik tawuran antar suporer. Bukan di skala prtandingan nasional, tapi juga di tingkat kampung, banyak terjadi tawuran seperti itu. Rata-rata pemicunya karena timmnya kalah atau wasit yang tidak adil. Ini juga menunjukkan kedewasaan masyarakat kita dalam menikmati pertandingan olahraga juga masih kurang. Tipik ketiga terbanyak adalah tentang perjudian,.. kalau yang ini, saya terkejut ketika olahraga mancing dan basket juga banyak dipakai sebagai ajang perjudian, lengkap dengan bandarnya segala, bahkan salah satu mahasiswa mengungkap perjudian di pertandingan olahraga antarkelas di intern sekolah. Mau tidak mau saya juga mengrenyitkan kening… apakah olahraga kita sedemikian parahnya ?

Riset-riset semacam ini jarang diungkap dalam penelitian. Padahal fenomena ini ada dan merupakan bagian dari masyarakat. Riset kualitatif sesungguhnya banyak dibutuhkan dalam olahraga, mengingat kemajuan ilmu olahraga kita sangat kurang, diikuti publikasi yang masih rendah (lambat merayap, meminjam istilahnya pak Supriadi Rustad). Bagaimanapun, minimal saya telah berusaha untuk mengarahkan mahasiswa, dan termasuk diriku sendiri untuk membuat publikasi.

 

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s