Jurnal Bridging Program Taiwan part 2: Gymnasium dan Ruang 1003 di Chinese Culture University (CCU)

Saya sering dinasehati oleh para sesepuh, jadi orang “ojo kagetan, ojo gumunan”. Jangan gampang kaget, jangan gampang heran. Maksudnya supaya kita tidak gampang terlena atau lengah. Saya sudah berusaha menanamkan hal itu pada diri sendiri agar nggak jadi wong ndeso yang tersesat di luar negeri. Meskipun Alhamdulillah sampai saat ini saya belum (dan semoga nggak pernah) tersesat, saya tetap saja terheran-heran. Khususnya ketika minggu pertama menginjakkan diri di CCU. Dan inilah beberapa hal yang membuat saya heran sekaligus kagum pada CCU, kampus yang dikatakan memiliki “gymnasium termahal” di Taiwan.

Pertama, CCU terletak di Hwa Kang road, lereng gunung Yang Min Shan, dekat National Part Yang Min Shan. Perjalanan pertama ke sana menanjak dan berliku-liku seperti rute dari Kota Batu ke wilayah Payung. Otomatis, cuacanya juga lebih dingin dan berangin. Tapi ya itu… di gunung itu ada sebuah kampus dengan gedung tinggi, termasuk Gymnasium – sebutan untuk gedung 13 tingkat dimana School of Sport and Coaching Science berada. Aslinya, gedung ini hanya 10 lantai, tetapi 3 lantainya berada di bawah tanah. Kolam renang, gym, fitness centre, gymnastics, dance hall, laboratorium Sports Measurements berada di lantai bawah tanah. Lantai 2 adalah Stadium untuk basket indoor, lantai 4 Tenis dan bulutangkis. Lantai 3 dan 4 adalah tribun yang juga dilengkapi jogging track dengan permukaan karpet semi karet. Lantai 5 dan 6 ada hall untuk Martial Arts, Lantai 8 dan 9 adalah ruang dan hall konferensi, sisanya adalah laboratorium, ruang administrasi, dan ruang kelas. Singkatnya, kami kuliah di ruang 1003 di lantai 10. Tentu saja, ruang kelas ini dilengkapi LCD projector, AC, dan pemandangan Kota Taipei terlihat di jendela.

 

 

Kedua, sesuatu yang istimewa di ruang kelas 1003, yang merupakan kelas kami selama belajar di CCU. Dan aku menyumpah dalam hati karena benar-benar terkejut ketika mengetahuinya. Ceritanya si Shelley, salah satu guru kami menyuruh kami untuk mengerjakan soal relative clause di papan tulis. Ia menggeser papan tulis ke samping, lalu mengatakan “Oke, sebagian kerjakan di papan tulis, sebagian kerjakan disini”. Ia menunjuk dinding kelas. What …? Kami heran dan nggak ngerti maksud Shelley. Masa kita menulis di dinding? Dan kami baru ngeh saat Shelley MENULIS di dinding kelas … astaga, dinding kelasnya bisa ditulisi whiteboard to…!. Aku sampai geleng-geleng kepala… I have never think about that, … dan saat itu aku merasa ndeso banget. Seandainya ruang kelas di Indonesia juga begini ya… (sementara cuma bisa mupeng, hehehe)

 

dinding yang bisa ditulisi di ruang 1003 Gymnasium CCU

dinding yang bisa ditulisi di ruang 1003 Gymnasium CCU

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di beasiswa, jurnal kur. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s