Laboratorium Sport Measurement di Chinese Culture University (Jurnal Bridging Program Taiwan Batch 2 part 3)

Di hari keempat, kami diminta untuk mengenakan baju olahraga karena akan dicek kebugaran jasmani masing-masing. Oleh Omega (mahasiswa Ph.D yang ditugaskan membimbing kami), kami dibawa ke basement B1, persisnya ke laboratorium tes dan pengukuran.  Di ruangan itu ada banyak alat tes pengukuran, tetapi di samping setiap alat ada sebuah papan transparan dengan layar LED kecil, kami tidak tahu apa fungsinya. Lalu kami diminta antri untuk mencatat biodata masing-masing dalam laptop Professor April Chang, penanggung jawab lab tersebut. Kami diminta memasukkan nama dan tanggal lahir masing-masing, setelah itu diberi sebuah kartu berukuran ATM yang merupakan kartu ID khusus untuk mengukur kebugaran jasmani kami. Prof. Chang mengatakan agar kartu ID itu jangan sampai tertukar.

proses pembuatan ID card untuk tes kebugaran jasmani

proses pembuatan ID card untuk tes kebugaran jasmani

Sebelum menjalani tes, kami juga harus mengisi terlebih dahulu kuesioner Par-Q, pada dasarnya adalah kuesioner tentang gambaran kondisi kesehatan kita. Kalau kondisi kesehatan kita tidak menungkinkan untuk menjalani tes, Prof. chang akan melarang kita mengkiuti tes. Par-Q terdiri dari 5 pertanyaan sederhana dengan pilihan jawaban “Ya” atau “Tidak” yang bisa dikerjakan dalam waktu singkat. Dari hasil kesioner itu prof Chang akan menilai apakah kita bisa dites atau tidak. Prof Chang juga mengatakan kalau semua mahasiswa School of Sport di tes setiap secara periodic. Dan di Taiwan, hasil tes kebugaran siswa SMU dan SMP bisa menpengaruhi peringkat sekolah ybs dalam mndapatkan dana pendidikan. Demikian sebaliknya, anak yang memiliki kebugaran yang bagus punya peluang untuk masuk SMP dan SMA terbaik. Jadi, kebugaran tubuh adalah sesuatu yang penting dalam dunia pendidikan Taiwan.

PAR-Q, kuesioner yang harus diisi sebelum melakukan tes kebugaran

PAR-Q, kuesioner yang harus diisi sebelum melakukan tes kebugaran

Ok, back to test. Setelah mengerjakan Par-Q, yang ternyata kami semua lolos untuk dites kebugran (ya iyalah dosen jurusan olahraga kan harus physically fit), kami dibawa dulu ke lantai 7 untuk menjalani tes Body Composition. Aku mengira kita akan menjalani semacam seperti tes antropometri dimana lemak, komposisi tubuh, semuanya diukur dan kita semua harus buka baju, dsb,…alamak… ternyata aku keliru! Disana kita hanya diminta naik ke sebuah mesin, memegang dua buah handel dan berdiri rileks selama sekitar 3-5 menit, lalu keluarlah lembaran print out body composition kita. Laporannya lengkap termasuk komposisi otot, lemak tubuh, dan kelebihan lemak di bagian mana. Berat badan saya ternyata harus diturunkan 5 kg dan kebanyakan lemak mengumpul di bagian pinggang (hahahaha… betul sekali). Lain kali akan saya bahas bagaimana cara kerja mesin ajaib itu. Dan kita semua mulai bertakjub ria dan dengan serunya membahas hasil tes masing-masing. Beberapa teman kaget karena termasuk “extremely obese” dan berniat akan melakukan olahraga teratyr ..! Wow hebat ya padahal ini belum tes yang sesungguhnya, kita sudah termotivasi untuk berolahraga duluan.

mesin pengukur body composition

mesin pengukur body composition

Setelah menjalani tes body composition, kita dibawa lagi ke lab sports measurement. Disana Prof Chang dan asistenya sudah menunggu. Ia meminta Id card kami, lalu memasukkannnya ke papan transparan yang ada LED-nya itu di depan mesin pengukur tenakan darah. Ternyata … semua hasil tes terekam otomatis ke kartu ID tersebut. Kalau kita sudah selesai dan akan berpindah ke tes berikutnya, kita tinggal mencabut kartu tersebut dan memasukkan kartu ID ke mesin yang berikutnya. Praktis,.. tidak perlu mencacat pakai kertas. Prof Chang lalu menerangkan bahwa kita harus menjalani 9 macam pengukuran kebugaran jasmani dan dengan telaten menerangkan cara penggunaan mesin tersebut satu persatu. Overall, ada 9 macam tes yang kita jalani antara pukul 10-12 siang: Tekanan darah, Atropometri, Tes Kardio menggunakan Harvard Step Test selama 3 menit, kekuatan otot perut mnggunakan Sit up, power menggunakan standing long jump, kekuatan tubuh bagian bawah menggunakan leg press, kekuatan genggam tangan dengan hand grip, kelentukan badan atas menggunakan sit and reach test, dan keseimbangan.

antropometri

antropometri

kekuatan tubuh bagian bawah menggunakan leg press

kekuatan tubuh bagian bawah menggunakan leg press

Tes emampuan jantung menggunakan Harvard step test selama 4 menit, mengikuti suara metronom

Tes emampuan jantung menggunakan Harvard step test selama 4 menit, mengikuti suara metronom

tes daya ledak/power menggunakan standing long jump

tes daya ledak/power menggunakan standing long jump

kekuatan perut diukur dengan sit-up

kekuatan perut diukur dengan sit-up

kelentukan punggung diukur dengan mesi sit-and-reach

kelentukan punggung diukur dengan mesi sit-and-reach

Al sedang mencoba kekuatan grip tangan dengan mesin hand grip

Al sedang mencoba kekuatan grip tangan dengan mesin hand grip

tes keseimbangan, berdiri satu kaki di atas mesin ini selama mungkin

tes keseimbangan, berdiri satu kaki di atas mesin ini selama mungkin

Kami cukup takjub juga melihat kecanggihan mesin-mesin tersebut yang oleh Prof Chang, dibanggakan karena semuanya “made in Taiwan” dan norma pengukurannya juga sudah distandarkan dengan populasi rata-rata orang Taiwan. Beberapa teman malah dengan gemas berkomentar dalam bahasa Indonesia; “Kita juga harusnya bisa mengembangkan alat-alat seperti ini!”, wah mengandung motivasi lagi nih…

Setelah menjalani semua tes, kami mengumpulkan kartu ID ke Prof Chang. Disana, Prof Chang memasukkan setiap kartu ID ke sebuah alat seperti mesin scan yang dihubungkan ke laptop Prof. Chang. Lalu dalam hitungan detik, keluarlah hasil tes kebugaran jasmani kita di monitor dan print-outnya di printer. Praktis banget, nggak usah pakai hitung-menghitung dan mencatat secara manual ! Semuanya highly otomatic ! Tetapi yang aku kagum dari sistem canggih itu adalah, printout hasil tes sudah berisi saran macam-macam latihan kebugaran jasmani yang disarankan untukku (tapi dalam bahasa Mandarin, jadi minta tolong Omega menerjemahkan dahulu). Untuk latihan kardio, aku disarankan untuk jogging, senam aerobik dan bersepeda. Sedangkan latihan kekuatan otot disarankan lebih banyak melatih otot perut dan tangan. Sedangkan untuk usia otot, aku masih memiliki kekuatan setara usia rata-rata 30 (yang paling bagus 25 tahun), dan total nilai physical fitnessku adalah 86 yang artinya termasuk baik untuk usia 30-35 tahun. Hahaha… bolehlah ada hasilnya masih tetap stretching saat ngajar praktek, hehehe.

Di akhir pertemuan, prof Chang mengingatkan kalau kami akan dites lagi pada akhir mei. Dan saat itu, diharapkan kita sudah mengalami peningkatan kebugaran jasmani… maka itu silahkan berolahraga teratur dan manfaatkan fasilitas olahraga di Gymnasium. Oke… siapa takut !

Foto bersama tim bersama prof. Chang

Foto bersama tim bersama prof. Chang

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di beasiswa, jurnal kur, Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s