Belajar Bersosialisasi di Luar Negeri (Jurnal Bridging Program part 5)

Sebelum berangkat mengikuti Bridging Program ke Taiwan, selain menuntut ilmu saya juga berniat untuk belajar secara live experience bagaimana caranya survive hidup di luar negeri. Soalnya kuliah di luar negeri adalah salah satu cita-cita saya, dan belajar bagaimana cara bersosialisasi adalah salah satu persiapan yang penting untuk dilakukan.

Selama 10 minggu di Taipei dan berkuliah di CCU (Chinese Culture University), saya mereguk banyak pelajaran, terutama terkait dengan pelajaran bersosialisasi ini. Meskipun kta tidak sepenuhnya struggle dengan keadaan, karena kami masih dalam rombongan ber-20 orang, iurusin ibu koordinator (Ms. Tracy Lee),  tinggal di hotel, belajar satu kelas bersama-sama, dan masih bisa berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa ibu, cukup banyak hal yang kucatata dan ingin kutuliskan disini. Salah satu dosen kami yang masih muda dan baru saja lulus Ph.D di Amerika, Dr. Stanley Chiang pernah bilang: “Waktu saya kuliah di Amerika, saya penah mengalami masa-masa sulit. Beradaptasi dengan sekitar, menghadapi tugas, diskusi kelas, sementara kemampuan bahasa masih terbatas,… setiap hari selalu ada tantangan baru yang harus dihadapi. Dan perjuangan itu bukan hanya di dalam kelas di lingkup akademik, tetapi juga di luar kelas,” lalu Dr. Chiang menceritakan betapa sulitnya ketika ia harus bernegoisasi masalah biaya kelahiran anaknya di Amerika (meskipun sekarang berada di Taipei, Dr. Chiang masih tinggal di US dan menjadi pengajar disana).  Meskipun saya belum mendapatkan besiswa sekolah di luar negeri, inilah beberapa catatan pelajaran yang saya dapat tentang bagaimana bersosialisasi di luar negeri;

Punya Nickname dalam bahasa lokal

Nama Indonesia kita kadangkala “tidak ramah” bagi lidah orang-orang di luar negeri, apalagi di English-speaking countries.  Jadi sebaiknya punya nama alternatif yang ramah dengan lidah lokal. Ms. Tracy Lee yang memberikan saran ini di minggu pertama kami tiba. Dia sendiri punya nama asli Tsuey Pin Lee, namun ketika kuliah di Amerika dia memperkenalkan dirinya dengan nama Tracy agar lingkungannya bisa mengingat dengan mudah. Dan itu juga berlaku untuk kami ber-20, kami wajib punya English name. Temanku Rara Warih menjadi “Sara”, Febrita menjadi “Vivi”, Al-Ardha menjadi “Al”, Ermawan menjadi “Jerry”, Wayan menjadi “Sam”, Spyanawati menjadi “Whitney”, Danardani menjadi “Danis”,… dan aku sendiri hanya mengambil pronunciation huruf pertama namaku saja sehingga nama Inggrisku adalah “Kay”.

Membaca petunjuk atau papan sign

Memperhatikan papan-papan petunjuk di semua tempat adalah sesuatu yang pasti jarang kita lakukan di Indonesia. Mengapa? karena orang ndonesia mengandalkan bahasa tutur sehingga lebih memilih bertanya. Nah, kalau di lua negeri harus membaca petunjuk, mengukuti papan petunjuk, petunjuk jalan, pokoknya semua petunjuk. Kalau merasa sangat tidak yakin, baru kita bertanya. Untuk belajar live experience ini kita harus turun ke jalan mencoba transportasi umum, peta, atau melakukan trial-error dengan sesuatu.Ini penting karena tidak semua orang bisa dajak berkomunikasi, meskipun kita bisa bahasa Inggris. Saya masih bisa mengenang keberhasilan perjalanan pertama saya menggunakan Taipei Metro bersama dua teman saya, Chris dan Vivi dengan hanya mengandalkan peta dan papan-papan petunjuk di Metro.

Taipei_Main_Station_24

Bersiap dengan cuaca dan membaca ramalan cuaca

Indonesia terkenal dengan iklimnya yang hangat, juga orang-orang yang ramah, sehingga toh kalau kehujanan di jalan pasti diperbolehkan berteduh di sembarang tempat. Kalau di luar negeri, belum tentu ada tempat berteduh, bahkan belum tentu orang-orang berteduh kalau cuaca buruk. Jadi kalau hidup di luar negeri, kita harus punya kebiasaan baru membaca ramalan cuaca untuk esok hari, biar nggak salah kostum. Nggak lucu ketika kita harus kedinginan gara-gara lupa bawa jaket (ini pernah terjadi pada kita semua). Di Taipei kadangkala cuaca tidak menetu, kadang hujan, berangin, kadang panas, sehingga saya juga punya kebiasaan baru membawa payung atau jas hujan di dalam tas.Beberapa teman juga mendownload aplikasi ramalan cuaca di dalam androidnya.

Asertif dan bersedia berkomunikasi

Berkomunikasi memang penting, tetapi biasanya kalau di Indonesia, kita sering diharapkan sudah tahu tanpa diberi tahu, istilahnya “sama-sama tahu”… nah di luar negeri tidak berlaku yang seperti itu. Kita harus memberitahu orang lain apa yang mereka harus tahu, atau bertanya suau hal yang kita benar-benar tidak tahu. Seperti misanya budaya traktiran, itu hanya berlaku di Indonesia. Kalau ada udangan Dinner kita juga perlu bertanya, apakah kita tinggal datang dan makan gratis atau bayar sendiri-sendiri. Nggak ada salahnya bertanya. Dan kita juga harus memberitahu apa yang barangkali mereka nggak tahu.Misalnya, waktu ada undangan dinner kita buru-buru ngasih tahu kalau beberapa diantara kami ada yang beragama Islam, jadi tidak makan daging babi dan tidak minum alkohol. Kita harus memberitahu karena tidak semua orang tahu hal itu. Dan kalau kita tidak berminat pada sesuatu atau ingin menolak, katakan saja secara jujur. Kalau kita ingin dapat sesuatu, kita juga harus berani ngomong dan bicara. Intinya, bersikap terbuka dan asertif.

dinner 2

Berteman dengan orang lokal

pengalaman saya, untuk cepat menyesuaikan diri adalah menjalin pertemanan dengan orang lokal. Karena mereka bisa memberikan informasi paling reliabel mengenai bagaimana adat dan kebiasaan lokal, dan kita juga membutuhkan informasi itu. Di Taipei ini, kami cukup sering mendapat undanan dinner dan berjalan-alan keluar bersama mahasiswa lokal yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik. Tiga diantaranya, sebut saja bernama BMT, Brian dan Penny. SElain itu kami juga menjalin persahabatan dekat dengan sanga koordinator, Ms. Tracy Lee. Jangan takut dengan masalah bahasa, karena mereka juga maklum kalau kita berasal dari non-English speaking country jadi masih struggle dengan bahasa Inggris. Pakai bahasa campuran, pakai bahasa tarzan, atau sesekali membuka kamus di android juga tidak masalah. Kepada Ms. Tracy, BMT, Bian dan Penny inilah kami sering bertanya-tanya tentang kebiasaan, adat, atau tempat-tempat yang layak dikunjungi di Taipei. Sebenarnya ini juga terkait dengan resep survive berikutnya yaitu memperhatikan sehari-hari kebiasaan orang lokal.

Memperhatikan kebiasaan sehari-hari orang lokal

Menyesuaikan diri dengan adat lokal yang tidak tertulis juga penting untuk dilakukan. Ini juga harus dipelajari karena banyak sekali kebiasaan yang berbeda dengan di Indonesia. Misalnya, untuk makan, di taiwan mnggunakan sumpit, jadi alau ingin menggunakan sendok, bisa memilih membawa sendiri, minta ke pelayan (kalau di resto), atau membiasakan diri dengan sumpit. Contoh lain misalnya untuk antri. Di Taipei kebiasaan orang-orang adalah selalu antri dengan jarak yang renggang sama lain, sehingga orang yang di depan masih bisa leluasa menggerakkan badan. Mereka juga hanya menyerang jalan di zebra cross seteah lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Aktivitas pagi dimulai jam 8, bukannya jam 6 atau jam 7 seperti di Indonesia.  Bila menaiki eskalator, orang Taipei selalu berdiri di sebelah kanan karena yang sebelah kiri untuk jalur cepat atau orang yang terburu-buru. Untuk buang sampah, selalu ada dua macam tempat sampah yang bisa di daur ulang dan tidak. Merokok dilarang di tempat umum, makan dan minum dlarang di stasiun dan di dalam Metro, dan pintu Metro hanya membuka selama 30 detik jadi tidak boleh lelet….. kebiasaan-kebiasaan sehari-hari ini sederhana namun harus kita amati dan pelajari kalau ingin survive.

Platform_of_Blue_Line_in_Taipei_Main_Station

Belajar bahasa lokal

Karena Taiwan menggunakan bahasa Mandarin, kita juga mendapat pelajaran tersebut di kampus. Dari guru Mandarin kami Mr. Pharaoh Qu, kita diberitahu untuk survive sebaiknya menguasai bahasa lokal sederhana untuk bilang ; ya, tidak, maaf, terimakasih, tolong, ulangi lagi, angka dan harga, memperkenalkan diri, bertanya arah jalan atau tempat, dan menanyakan harga. Meskipun saya payah dalam mandarin hingga saat ini, saya merasakan keterampilan bahasa lokal sangat membantu untuk survive, tertama dalam membeli suatu barang dengan harga leih murah,… hehehehe.

overall,..inilah hal-hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Untuk memepelajarinya, kita harus mengamati dan terjun langsung ke pengalaman tersebut… there is no other way…

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di beasiswa, jurnal kur, Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s