Situs Bersejarah Taipei: National Palace Museum, Chang Kai Shek dan Sun Yat Sen Memorial Hall (Jurnal Bridging Program part 7)

bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, konon bung Karno pernah berkata. Mungkin teralu berlebihan kalau ungkapan ini saya masukkan di sebuah artikel yang sepertinya membahas perjalanan darmawisata di negeri orang. Namun, jujur saja, untuk salah satu  manifestasi nyata penghargaan itu melalui monumen dan museum, kita bisa belajar dari negara-negara lain. Meskipun di negara-negara itu tidak ada BK, saya jujur cukup salut dengan bagaimana mereka memperlakukan monumen dan museum. Bukan megahnya sebuah monumen atau museum yang ingin saya fokuskan, tetapi pada bagaimana pemerintah dan masyarakat sekitar memperlakukan tempat-tempat bersejarah itu.

Ketika berada di Taipei, ada beberapa situs “untuk mengenang jasa pahlawan” yang kami kunjungi. Maklum, karena semuanya bisa dicapai dengan MRT, kami memutuskan untuk mengeksplor baik itu berombongan atau berkelompok kecil. Beberapa yang masuk dalam daftar adalah National Palace Museum, Chang Kai Shek Memorial hall (CKS) dan Sun Yat Sen Memorial Hall (SYS).

National Palace Museum

Awalnya penasaran kenapa museum ini sepertinya sangat terkenal dan disebutkan dalam salah satu yang recommended untuk diunjungi bila ke Taipei, 150Nt lumayan merogoh kocek buat saya untuk masuk ke sutau tempat dimana kita hanya melihat-lihat dan nggak boleh berfoto-foto ria (kita dilarang membawa makan minum dan mengambil foto di dalam museum). Tetapi begitu masuk ke dalam museum, persepsi saya berubah 180 derajat. Museum ini benar-benar sebuah museum dengan banyak barang berharga di dalamnya…. ulangi; sangat-sangat-sangat- berharga karena selain bernilai sejarah tinggi, dari segi estetika pun, koleksinya bernilai sangat tinggi.

Memang beberapa diantara koleksinya adalah barang-barang kerajinan tangan terbaik di zamannya, antara lain ukiran batu Jadeite cabbage yang menjadi ikon terkenal National palace Museum. Saya sendiri sempat berdiri lama di depan guci marmer kecil berukir “sembilan naga”– karena kuhitung naganya benar-benar berjumlah sembilan padahal ukuran guci itu hanya sekitar 10 x 10 cm…. biasanya ketika mengagumi benda seni, saya selalu membayangnya bagaimana kondisi kejiwaan si pembuat, karena untuk mewujudkan idea ke dalam bentuk nyata membutuhkan konsentrasi dan totalitas yang tinggi. Saya juga menghabiskan waktu agak lama mengagumi lukisan dan kaligrafi, ini karena saya pernah membaca kalau melukis dengan tinta cina tidak mudah, “satu goresan tinta seperti satu tebasan pedang yang tidak bisa ditarik kembali” (Musashi Miyamoto yang bilang). Saya sendiri membeli sebuah buku tentang lukisan dan kaligrafi sebagai suvenir.

Ternyata ada sejarah di balik mengapa National Palace Museum di Taiwan sangat terkenal. National Palace Museum menyimpan banyak koleksi-koleksi dari Forbidden City di Beijing (Kota terlarang). Kalau anda sekalian pernah melihat film kungfu yang ada adegan perang di tengah lapangan batu yang luas dengan istana dan tangga batu yang lebar di tengah, nah itu adalah lapangan  yang merupakan bagian dari Kota Terlarang. Disebut Kota Terlarang karena sebenarnya ini adalah kompleks istana Kekaisaran yang dahulu kala rakyat biasa tidak bisa sembarangan masuk. Pada zaman Chinese Civil War, beberapa (ratusan) koleksi terbaik dari Kota Terlarang dilarikan ke Taiwan. Brian yang mengantar kami berkata “Banyak orang bilang, kalau Forbidden City di Cina itu adalah bentuk luarnya, National Palace Museum berisi dalamnya, makanya turis selalu datang ke sana”.

did epan national palace museum

did epan national palace museum

Chang Kai-Shek Memorial Hall

CKS memhall didirikan untuk mengenang CKS sebagai pendiri negara. Gerbang putih beratap ungu yang megah, dua bangunan identik-National Theater dan National Concert Hall mengapit sebuah lapangan besar — di ujungnya, sebuah bangunan segiempat putih dengan atap ungu itulah yang merupakan Memorial Hall-nya, dimana di daamnya pantung perunggu CKS bertahta yang dijaga seorang tentara berseragam lengkap. Ini adalah monumen nasional  sekaligus tourists attractions Taipei.

cks gate

Saya pribadi sempat berpikir, meskipun Indonesia adalah negeri yang menyukai simbolisasi, tetapi membangun monumen di kompleks seluas dan semegah ini terasa terlalu berlebihan untuk seorang pendiri negara yang memerintah selama 25 tahun. Namun saya berpikir dengan pola pikir orang Indonesia yang tidak tahu siapa itu CKS. Baru ketika pulang ke rumah dan surfing di google, tahulah saya mengapa monumen itu dibangun sebegitu megahnya. Silahkan membaca sejarahnya disini.

cks statue

Jujur saja, justru yang saya sukai dari CKS memhall bukanlah monumennya itu sendiri, tetapi lapangan besar di depannya (square). Di square itu bukan hanya turis yang berkumpul, tetapi juga orang-orang lokal dengan berbgai aktivitasnya. Sekeluarga camuran (ayah bule-Ibu Taiwan–mungkin) sedang megajak anak-anaknya bermain, para singles (mungkin) yang berlari-larian dengan anjing-anjingnya, orang tua yang bermeditasi atau latihan taichi, sekelompok anak SMP yang sedang latihan break dance, dan sekelompok besar remaja yang sedang berlatih drum band dengan disiplin. Untuk yang terakhir ini, mereka berpisah menjadi beberapa kelompok besar sesuai alat musiknya masing-masing, dan leluasa berlatih dengan suara keras tanpa terganggu suara alat musik yang lain. Dan memang mereka juga menjadi tontonan tersendiri bagi para pengunjung. Memang mungkin tujuannya melatih mental ya, bermain sambil ditonton oang banyak. Saya membayangkan seadainya ada ruang terbuka seluas ini di Malang, betapa bermanfaat… (btw, untuk public open spaces di taipei juga akan saya bahas kemudian). Saya kira, ativitas di square inilah yang menjadi inti dari manifestasi cita-cita CKS sebagai pendiri negara, bangsa yang penuh karya.

di depan CKS square

Sun Yat Sen Memorial Hall

Destinasi yang terakhir ini kujelajai berdua bersama mbak Danis–roomateku yang juga hobi menjelajah. awalnya saya juga tidak tahu SYS itu siapa– dan aku baru tahu kalau SYS sebenarnya adalah pendahulunya CKS. SYS mungkin bisa dibilang Bapak Republik-nya ROC, ia yang mendirikan partai Nasionalis Kuo Min Tang di Cina daratan dimana  CKS menjadi jenderal tentaranya. CKS mungkin bisa dibilang sebagai pengikut setia SYS, dan Memorial Hall ini dibangun untuk mengenangnya.

Sun Yat Sen Memorial Hall

Secara fisik tidak semegah CKS, namun yang menrik bagiku adalah tamannya. Disana ada banyak patung dan pahatan kaligrafi cina (sayang saya tidak bisa membacanya) yang sekilas menggambarkan kisah hidup SYS. Memorial hall-nya sendiri berada di alam gedung yang menjadi satu dengan perpustakaan dan exhibition center. Tapi saya tidak masuk ke dalamnya karena tergoda untuk menjelajahi tamannya yang memanjakan mata, karena Taipei 101 tampak jelas dari tamannya. Selain itu, hari sudah mulai sore.

Sekali lagi, saya justru terpesona dengan aktivitas di square sekeliling SYS memhall. Kalau disini justru lebih banyak orang melakukan olahraga, meskipun squarenya tak seluas CKS. Banyak sekali bapak-bapak dan remaja sedang berjogging santai atau aerobik. Tempat terbuka benar-benar dimanfaatkan maksimal oleh penduduk Taipei, sehingga saya terpaksa mendefiniskan ulang situasi sebuah kota besar tidaklah harus hutan beton melulu, tetapi taman terbuka nan hijau juga dibutuhkan.  Dan keberadaan monumen serta situs bersejarah yang megah itu, mau tidak mau akan menjadi pengingat yang tidak dapat diabaikan, meskipun kisah, ideologi dan sejarah mulai terlupakan tergerus bergulirnya zaman,…

taipei 10 from sun yat sen

 

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s