Kalau saya ke Taiwan, apakah kalian mau menyusul?

ta shao building

Da Shao Building atau Sport Gymnasium, Chinese Culture University (CCU) di Taipei, Taiwan

Baiklah, judul di atas memang agak aneh untuk sebuah topic diskusi belajar di luar negeri. Tetapi, memang harus diakui, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih tujuan studi. Sebelumnya, saya berniat ingin ke Australia. Tahun 2012, saya mengirim banyak email untuk mencari Supervisor, dan dua kali mencoba melamar beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Email-email itu berujung penolakan karena untuk menenmpuh program Sport Psychology, kualifikasi penguasaan bahasa Inggris saya masih kurang. Mereka minta setidaknya IELTS score minimal 7.5, sementara IELTS saya masih 7 (7 itu kira-kira equal TOEFL ITP 550 lah..dan masih kurang!). Kemudian ada kabar bahwa DIKTI membatasi kuliah ke Ausralia karena masalah biaya pendidikan yang mahal. Baiklah, Australia keluar dari daftar.

Lalu saya beralih ke Eropa. Belanda dan Inggris adalah tujuan berikutnya. Tahun 2013, ternyata saya lolos untuk mengikuti shortcourse ke Taiwan, dimana selama 3 bulan saya belajar di Chinese Culture University (CCU) di Taipei, tepatnya di lereng gunung Yang Min Shan. Nah, di minggu kedua kursus tersebut, saya mendapatkan email kalau saya lolos shortcourse Neuroscience di Maastricht University di Maastricht, Belanda. Tapi waktu keberangkatannya mepet dengan kepulangan dari Taiwan, sehingga dengan berat hati saya mengundurkan diri dari program tersebut (ada masa pundung berhari-hari di Taipei, dimana saya nyesel ‘kalau tahu bakalan lolos ke Belanda, ngapain ke Taiwan’). Lalu, saya tetap mencoba untuk mencari pendekatan studi ke Inggris, di tengah-tengah saya belajar di CCU. Alhamdulillah, suatu saat saya mendapat email balasan untuk melakukan wawancara jarak jauh via skype dengan salah satu professor di Biringham University. Dan setelah wawancara tersebut, saya diminta segera mengurus LOA lewat lodgement agent. Namun… sekali lagi, saya gagal mengurus LoA itu, Kali ini adalah karena saya ragu untuk meninggalkan keluarga dalam waktu yang begitu cepat. Anak masih batita, dan jujur, saya juga ingin melihat dia tumbuh. Jadi, saya juga menggagalkan diri sendiri dengan tidak mengurus LoA, menghubungi professor yang mewawancarai saya tersebut dan meminta maaf karena saya menunda studi saya.

Singkat cerita, sekembali dari Taiwan, saya kembali menjadi ibu, dosen biasa dan bukan pemburu beasiswa. Saya menikmati keseharian saya mengajar dan menulis, dan bahkan menekuni dunia keatlitan kembali dengan bertanding mewakili Kabupaten Malang dan jatim. Saya memundurkan rencana studi saya tahun 2017. Tapi, namanya bukan rejeki, di pertengahan 2015 saya tidak lolos seleksi untuk tim pra-PON Jawa Timur. Pelatih saya pun juga memberi saran untuk fokus ke pekerjaan dan sekolah S3 saja.

pemandangan kota Taipei dari Lantai 10

pemandangan kota Taipei dari Lantai 10, gedung Da Shao Building (Sport Gymnasium) di CCU

Nah, sekarang… saatnya untuk kembali ke topik. Sekolah S3. Doktoral. Ph.D. Saya tadinya berpikir untuk kembali menjadikan Eropa sebagai sasaran. Proposal penelitian daam bahasa Inggris sejumlah 4 halaman saya buka lagi, jujur, saya tertarik untuk meneliti Imagery dalam kecakapan taktis bela diri, itu semacam kemampuan membaca, memprediksi dan menentukan taktik apa yang harus digunakan kepada lawan. Saya punya ambisi untuk S3 ini, saya benar-benar ‘mengawinkan’ keilmuan saya di psikologi dan kesenangan saya berada di lapangan pencak silat. Saya mulai mencari profil-profil universitas dan professor yang sekiranya bisa membimbing saya. Dan saya juga mulai untuk memotivasi diri sendiri dengan membagi cita-cita ini kepada mahasiswa. menceritakan kepada mereka bahwa memiliki wawasan dan cita-cita yang tinggi itu perlu, karena semua itu mengarahkan kita untuk menjadi lebih baik.

Tapi, disitulah saya juga berpikir; “kalau saya pergi ke Inggris, apakah ada yang mengikuti saya ke sana?” Mereka tentulah minta kualifikasi yang sangat tinggi. Lalu, apakah saya bias dengan leluasa mengaplikasikan ilmu yang saya dapat disana dengan mudah?Situasi kultur Eropa dengan Indonesia jauh berbeda, tentu akan ada beberapa kesulitan untuk meerapkan apa yang didapat. Ditambah lagi, dengan semakin berkembangnya teknologi, rasanya kita belajar dimana saja pun tak masalah. yang membedakan adalah karya. Sebagai contoh, Dosen terbaik UM tahun 2015 ini adalah seorang dosen muda (usianya masih 38 tahun) dan merupakan lulusan sebuah universitas di Malaysia. Karya akedmik jurnalnya cukup banyak meskipun ia lulusan sekolah Doktoral di Malaysia. Rasanya yang membedakan bukanlah lagi tempat sekolah, tapi karya.

Ditambah lagi, kalau saya berniat untuk mendapatkan ilmu dengan menuruti idealism, atau menuruti ego keilmuan saya sendiri, apakah saya akan mampu untuk menerapkan ilmu itu dengan cepat di Indonesia? Saya adalah dosen di sebuah universitas di Indonesia, dan kalau saya mengajar, saya ingin mengajar dalam bahasa yang sama dengan para mahasiswa. Saya juga ingin mahasiswa saya bisa mengikuti saya, bahkan lebih baik dari saya.

Dalam beberapa presentasi individual mengenai cita-cita sbagai UAS beberapa matakuliah saya, beberapa mahasiswa mengutarakan keinginan mereka untuk menjadi dosen, sekolah S2, bahkan ada yang ingin sekolah di luar negeri. Hal itu juga membuat saya terharu dan berpikir beberapa kali tentang tujuan sekilah. Juga membuat imajinasi saya mengelana. Kalau saya ke Inggris, tiket pesawat dan biaya perjalanan ke sana itu mahal banget, apa kalian mau menyusul saya ke sana? Belum lagi kalau bicara masalah kualifikasi bahasa dan keilmuan. Tapi akan beda kalau saya ke Singapura atau ke Taiwan, masih affordable kalau para mahasiswa mau ke sana untuk studi banding, berkunjung, atau melanjutkan sekolah S2. Dan kalau saya juga berada di sana, saya BISA MEMBANTU KALIAN untuk sekolah di Taiwan. Kabar baiknya lagi, di CCU tempat saya menempuh shortcourse dulu, ada jurusan Master of Coaching and Exercise Science.

denah da xiao

maaf dok, pinjem fotonya. Di belakang itu adalah denah dari Sport Gymnasium di CCU, bener-bener lantainya 10….

laboratorium fisiologi.

laboratorium fisiologi CCU, Da Shao Building

10-angle camera infra red di laboratorium biomechanic

10-angle camera infra red di laboratorium biomechanic CCU

Ruang Weight Training - tempat ini khusus untuk beban bebas

Ruang Weight Training CCU – tempat ini khusus untuk latihan beban bebas bagi atlet, dan masih ada 2 ruangan fitness centre lainnya

Athletic Trainer Room di basement B1 - Sport gymnasium CCU

Athletic Trainer Room di basement B1 – Sport gymnasium CCU. Ruang Masase dan fisioterapi ada di sini

CCU back gate

Gerbang Belakang CCU, bersama tim peserta Bridging Program DIKTI 2013

Perhatikan, itu benar-benar kuliah Master yang fokus untuk melatih ! Dan di sana benar-benar ada Sport Gymnasium yang berlantai 10 dengan semua fasilitas olahraga berada di dalamnya. Saya membayangkan memperlihatkan itu kepada kalian, para mahasiswa! Saya membayangkan untuk juga membawa kalian keliling Taipei dengan MRT-nya, menaiki Taipei 101 yang liftnya tercepat di dunia, dan juga TMS, mall bawah tanah tenpat orang-orang Indonesia banyak berkumpul. Rasanya, saya menjadi bersemangat, dan jujur, hal itu membuat saya memiliki satu makna tambahan tersendiri pada profesi saya.

Jadi, kalau saya, Kurniati Rahayuni, Magister Psikologi, kuliah Doktor di bidang ilmu Sport di Taipei, apakah kalian mau menyusul saya? Munkgin saya tidak kuliah di CCU, tapi di National Taiwan Normal University atau bahkan di National Taiwan University (NTU) atau di unversitas lainnya, tapi, kalau kalian mau ke sana juga, kukira aku juga bisa membantu.  Apakah kalian mau, kuliah S2 disana, di Sport?

NTU

Kur di depan gerbang NTU, mbolang entah hari keberapa, hujan rintik-rintik. Katanya ini adalah uni terbaik di Taiwan yang terkenal dengan engineering-nya, dan asli kampusnya gede banget ..!

Apakah kalau kalian mau menabung, kalian mau berjunjung ke sana, dan menjadi backpacker sejati yang menikmati keliling Taipei murah?

taipei 10 from sun yat sen

Taipei 101 dari Sun Yat Sen Memorial park. Membolang dengan mbak Wasti Danardani, dosen POK Undiksha

Apakah kalau bisa terjadi, kalian mau melakukan kunjungan resmi, atau studi banding, ke sana untuk melihat sendiri Sport gymnasium dan berbagai fasilitas olahraga di Taiwan?

Apakah kalian bersedia menjawab impian, atau bahkan tantangan ini?

silahkan komen, jawab, atau entahlan kesan anda bagaimana.

I open myself to any response

Tentang kursniper

loves reading, jogging, blogging, surfing in the web and sharing knowledge. Pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan sebuah universitas negeri di Malang; asisten pelatih pencak silat di tim PSHT Malang dan Kabupaten Malang; professional sport psychologist who just started her own research and practice.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

7 Balasan ke Kalau saya ke Taiwan, apakah kalian mau menyusul?

  1. Al Azhar Rosa Kurnia berkata:

    Saya berniat melanjutkan S2 kalau bisa saya mencari beasiswa. Supaya tidak memberatkan orang tua saya dan kalau bisa sambil bekerja bu

  2. azhar fadhil s berkata:

    terimakasih untuk dosen kurniati rahayuni, saya awali terimakasih saya tentang semua share, tentang wawasan2 yang sering di berikan kepada saya. saya memang punya cita-cita untuk menjadi dosen, dan salah satu cara untuk impian saya itu ya harus melanjutkan studi saya, tapi memang masalahnya saya harus melanjutkan study kemana? setalah menimbang nimbang, menerima masukan dari beberapa dosen termasuk bu kurniati, akhirnya saya mempunyai gambaran harus kemana saya nanti setelah lulus studi S1 saya.
    dulu sewaktu kecil, saya punya angan2 apakah saya bisa kuliah, dan saat melewati kampus UM, saya bertnya pada diri saya, apakah saya bisa kuliah di tempat itu ( kampus UM) itu lah yg ada di benak saya dulu sewaktu kecil, tanpa sebenarnya saya belum tahu bagaimana kualitas kampus itu, tapi sekarang saya sudah berdiri di dalamnya menjadi salah satu mahasiswa kampus UM, terimakasih yaAllah…
    dan sekarang saya punya angan2 dan cita2 untuk melanjutkan studi saya kususnya di luar negri dengan beasiswa, karena sewaktu saya konsul ke orang tua tentang studi S2, orang tua saya hanya bilang “biaya dari mana le”.
    yaAllah… bismillah…saya menjawab tantangan dari dosen kurniati rahayuni untuk menyusul beliau melanjutkan studi di taiwan, dan juga menjawab pertanyaan orang tua saya tentang biaya, bahwa saya akan bisa mendapatkan beasiswa untuk studi saya. yaAllah, berikanlah kelancaran tentang impian hamba. aminnn

  3. Isnan Rahmat W berkata:

    setelah membaca ini saya jadi bersemangat menempuh S2 di luar negeri. kalau boleh diperkenankan, saya ingin kesana melihat univ terbaik di taiwan
    menyusul atau bahkan bisa bersama Bu.Kurniati

  4. bagusjosue berkata:

    thank’s bu, untuk info dan ceritanya :-))
    kadang dalam hidup itu kita harus melepas untuk menerima, karena tangan dan kemampuan kita tidak cukup besar untuk menerima semuanya,
    kadang dalam hidup itu kita harus mempunyai cita” dan impian yang besar, setinggi langit. Karena jika kita terjatuh, kita akan jatuh diantara bintang” (Ir.soekarno),
    ibu adl seorang dosen (guru bagi kami), apa yang ibu lakukan adl sebuah kebaikan bagi kami.🙂 “Hadiah pertama bagi orang yg melakukan kebaikan adl kebaikan” (mario teguh). jika kita tidak tau jalan untuk mencapai apa yg kita inginkan, maka kebaikanlah yang akan menunjukanya.🙂

  5. Ayu Dwi Lestari berkata:

    Terimakasih atas ceritanya bu, ini sangat menginspirasi saya dan membuat saya menjadi lebih bersemangat melanjutkan studi S2 saya, insyaallah jika Allah menghendaki saya menjadi backpaker sejati di luar , saya akan menyusul bu kurnia dan membuat orang tua saya bangga.. Amiiin ya Allah..
    Sekali lagi trimakasih bu telah memberikan wawasan yang begitu luas..

  6. Saya memiliki sebuah cita-cita yang mungkin berbeda dari kawan-kawan saya, tetapi setelah saya berfikir selama 1 bulan saya mengurungkan niat saya untuk ambil sekolah di SHS, saya ingin melanjutkan kuliah S2 saya ke Jepang dengan mengikuti beasiswa monbugakusho karena saya adalah anak dari keluarga yang sederhana, setelah membaca tulisan ibu tadi di atas, semangat saya untuk mengikuti beasisiwa monbu sangat besar dan salah satu guru SMA saya berkata “Do,a mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin” akan menjadi semangat dan dorongan saya.

  7. Intan wulandari berkata:

    Setelah saya membaca tulisan pengalaman dan motivasi bu kurnia saya benar2 kagum sekali dengan kepribadian bu kurnia , apalagi dengan semangat yang tiada tara. Saya salut sekali bu kepada ibu kurnia , dan setelah membaca saya merasa apakah saya benar2 bisa melewati semua dan mempunyai semangat seperti bu kurnia. Meskipun sebenarnya didalam hati ingin sekali menjadi orang yang benar2 pintar dan bisa berguna sekali , meskipun kadang saya rasa ingin untuk bersekolah keluar negeri tetapi apadaya karena keterbatasan berbahasa saya merasa seperti terlambat untuk belajar kembali. Tetapi meskipun bagi saya itu sulit tidak ada salahnya jika saya hanya bisa berkunjung dan melihat universitas terbaik di taiwan bersama bu kurnia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s